Home / Berita / Utang Luar Negeri Meroket 48%, BUMN Catat Rekor Tambah Utang Luar Negeri Per Mei 2019

Utang Luar Negeri Meroket 48%, BUMN Catat Rekor Tambah Utang Luar Negeri Per Mei 2019

Posisi Utang Luar Negeri (ULN) swasta, termasuk di dalamnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN), per akhir Mei 2019 sebesar US$ 196,9 miliar. Jumlah tersebut tercatat naik 11,3% dibanding posisi tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).
Peningkatan Utang Luar Negeri paling pesat terjadi pada BUMN bukan lembaga keuangan, yaitu sebesar 48% YoY. Adapun peningkatan ULN Bank BUMN juga sangat tinggi, yaitu 0,35% YoY. Sedangkan ULN BUMN lembaga keuangan non bank hanya naik 1%.
Meski demikian, pertumbuhan ULN swasta pada Mei 2019 lebih lambat dibanding bulan sebelumnya sebesar 14,7% YoY.
Bank Indonesia (BI) mengatakan hal tersebut terajadi akibat penurunan posisi utang di sektor jasa keuangan dan asuransi. Posisi ULN sektor tersebut pada bulan Mei hanya US$ 48,8 triliun yang mana turun dari posisi bulan sebelumnya sebesar US$ 51,03.
Perusahaan yang termasuk lembaga keuangan masih mendominasi porsi ULN swasta, dengan posisi US$ 149,4 miliar (setara 75% dari total ULN swasta) pada bulan Mei 2019.
Berdasarkan sektor, ULN swasta masih didominasi oleh empat sektor berikut:
  • Jasa Keuangan dan Asuransi : US$ 48,8 miliar
  • Industri Pengolahan : US$ 35,5 miliar
  • Pengadaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas dan Udara (LGA) : US$ 32,18 miliar
  • Pertambangan dan Penggalian : US$ 31,47 miliar
Empat sektor tersebut menguasai 75,2% dari total ULN swasta.
Sementara Singapura tercatat sebagai negara pemberi utang terbanyak pada perusahaan swasta Indonesia dengan nilai mencapai US$ 65,01 miliar pada bulan Mei 2019. Disusul oleh Amerika Serikat (AS) dan China yang masing-masing sebesar US$ 20,58 miliar dan US$ 15,7 miliar.
Sama halnya dengan pemerintah, ULN perusahaan swasta juga sebagian besar merupakan utang jangka panjang. Sebanyak US$ 148,37 miliar atau 75,3% dari ULN swasta per Mei 2019 merupakan utang jangka panjang.
Sebagai informasi, ULN jangka panjang merupakan utang yang memiliki waktu jatuh tempo lebih dari 1 tahun.
Dengan begitu, struktur ULN swasta Indonesia dinilai masih tetap sehat lantaran memiliki waktu yang relatif panjang untuk membayar.
Sumber CNBC Indonesia, edit koranbumn


Check Also

Holding Pelindo Jadi Solusi Tingkatkan Standarisasi Pelabuhan RI

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC, Elvyn G Masassya menyebutkan saat ini …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *