Jawab tantangan persoalan sampah di masyarakat, PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) gagas inisiatif Urban Farming bertajuk ‘Pengelolaan Sampah Organik dari Sumbernya’. Program ini menjadi langkah konkret perusahaan dalam mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan, sekaligus ketahanan pangan keluarga di Kota Bontang.
AVP Agrosolution Pupuk Kaltim Wilayah Kaltimtara, Joko Trisilo, selaku tim inisiator program menjelaskan, gagasan ini melihat tingginya dominasi sampah organik dari limbah rumah tangga, dengan persentase mencapai 60 persen dari total sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) setiap harinya.
Berdasarkan perhitungan, satu keluarga rata-rata menghasilkan 1,7 kilogram (Kg) sampah organik per hari, atau setara 620 Kg per tahun. Jika ini tidak dikelola dengan baik, hal itu akan menjadi sumber masalah lingkungan karena menghasilkan gas metana, serta meningkatkan risiko pencemaran tanah dan air yang berpotensi menambah beban pengelolaan sampah.
Melalui pendekatan ini, Pupuk Kaltim mendorong masyarakat untuk melakukan pemilahan dan pengolahan sampah organik dari dapur rumah tangga, agar sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai, diubah menjadi kompos hingga media tanam yang bisa dimanfaatkan kembali untuk pertanian maupun peluang ekonomi baru.
“Pendekatan ini tidak hanya menekan volume sampah yang dibuang ke TPA, tapi juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya perubahan perilaku dalam pengelolaan lingkungan,” ujar Joko Trisilo, saat launching program di Kelurahan Guntung, Bontang Utara, Rabu (17/12/2025).
Pada program ini Pupuk Kaltim menempatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan komunitas perempuan di Kota Bontang sebagai aktor utama, yang memiliki peran strategis dalam pengelolaan dapur, pendidikan lingkungan keluarga, hingga penguatan ketahanan pangan rumah tangga. Dimana pengelolaan sampah organik bisa dilakukan secara sederhana dari rumah, mulai dari memilah dan mencacah sisa makanan, hingga mengomposkan dengan metode higienis dan minim bau.
“Saat ini ada 20 KWT dari berbagai Kelurahan yang mendaftar sebagai peserta program. Dan 4 KWT diantaranya telah memasuki tahap pendampingan aktif,” tambah Joko.
Direktur Operasi Pupuk Kaltim, F Purwanto, menegaskan program ini bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam mengintegrasikan aspek operasional, dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Utamanya mendorong praktik berkelanjutan melalui gagasan produktif yang berdampak signifikan di masyarakat.
Terlebih Pupuk Kaltim memiliki produk Biodex, sebagai inovasi dalam pembentukan proses dekomposer dari sisa sampah organik. Produk ini mengandung mikroorganisme aktif yang dapat membantu proses dekomposisi bahan organik, serta meningkatkan ketersediaan unsur hara. Penggunaan Biodex juga mendukung penerapan pertanian berkelanjutan, dengan mempercepat proses pengomposan hingga mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sintetis.
“Ini wujud komitmen Pupuk Kaltim terhadap pembangunan berkelanjutan, dengan menempatkan masyarakat sebagai mitra strategis dalam menjaga lingkungan dan kualitas hidup,” ujar Purwanto.
Pada kesempatan itu, Pupuk Kaltim turut menyalurkan bantuan mesin pencacah hingga bioaktivator Biodex dan Ecofert bagi masing-masing KWT, agar realisasi program berjalan optimal sesuai sasaran pendampingan. Melalui bantuan tersebut, tiap KWT juga diharap lebih produktif seiring fasilitas pendukung yang dihadirkan Perusahaan.
“Pupuk Kaltim akan terus mengawal program ini melalui pendampingan, monitoring dan evaluasi, agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat secara berkelanjutan,” tambah Purwanto.
Staf Ahli Pemkot Bontang Bidang Pembangunan, Kemasyarakatan dan SDM, Lukman, mengapresiasi inisiatif urban farming Pupuk Kaltim, agar masyarakat lebih aktif dalam pemilahan sampah mulai tataran rumah tangga. Menurut Lukman, hal ini sejalan dengan program Gerakan Sampahku Itu Tanggung Jawabku (GESIT) yang diinisiasi Pemkot Bontang, untuk menumbuhkan kesadaran bersama memilah sampah mulai diri sendiri.
“Kami sangat menyambut positif urban farming ini. Terlebih jika dikelola dengan baik, sisa sampah organik turut memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ucap Lukman.
Dirinya pun berharap urban farming makin diperluas, sehingga menjadi katalis perubahan menuju pola hidup yang lebih ramah lingkungan. Dari dapur rumah tangga, masyarakat dapat berkontribusi nyata menjaga bumi, disamping meningkatkan kesejahteraan melalui kompos yang dihasilkan.
“Jika makin banyak masyarakat yang mampu mengelola sampah sendiri, maka dampak terhadap lingkungan akan sangat besar. Pemkot Bontang sangat mendukung program ini berjalan berkelanjutan,” pungkas Lukman.














