Kekayaan budaya dan kearifan lokal Indonesia sungguh tak ternilai dan perlu kita lestarikan bersama. Di tiap kawasan yang ITDC kelola, termasuk di The Mandalika, memastikan masyarakat lokal dapat terus mempraktekkan ekspresi budayanya di dalam kawasan.
Apresiasi dan pengakuan ITDC terhadap kearifan lokal serta keberlangsungan ritual adat tercermin mulai dari penamaan The Mandalika yang berangkat dari cerita rakyat asal Sasak di Lombok, mengisahkan pengorbanan Putri Mandalika yang mengorbankan dirinya demi kedamaian rakyatnya. Cerita ini diperingati tiap tahunnya oleh masyarakat Sasak melalui Upacara Bau Nyale dan setiap tahunnya ribuan masyarakat Sasak dan pengunjung dapat dengan bebas melaksanakan ritual Bau Nyale di The Mandalika bahkan berbagai perayaan juga kami fasilitasi.
ITDC pun terus memperkenalkan dan memfasilitasi beragam tradisi khas Sasak melalui keberadaan The Mandalika. Dalam pelaksanaan Madak Mare, yaitu tradisi menangkap ikan di Pantai Kuta, kami menyediakan tenda bagi warga Desa Rembitan untuk menjalankan prosesi selama 3 hari 3 malam. Tari Peresean dan Gendang Beleq, kerap menjadi pertunjukan yang mempesona dalam berbagai event di The Mandalika.
ITDC pun membina Desa Sade yang terkenal dengan hasil tenun khas Sasak. Tak lupa, kami menghargai dan memfasilitasi toleransi antar umat beragama di Lombok, yang tercermin dalam Lebaran Ketupat di akhir Idul Fitri.
Bangga akan budaya khas daerah dan terus mendukung pengembangan pariwisata Indonesia
















