Pemanfaatan PLTS solar rooftop sdh menjadi tren global saat ini. Namun sayang, pemanfaatan di Indonesia masih sangat terbatas meski sudah mulai membaik setahun terakhir sebelum pandemi.
Ada beberapa yang perlu dipahami dulu perbedaan PLTS on-grid dan off-grid serta faktor yang perlu diperhatikan dlm memilih sistem tenaga surya.
SISTEM ON -GRID
Sistem on-grid akan menghasilkan daya listrik ketika jaringan daya utilitas (PLN) tersedia. Sistem ini dapat mengirim kelebihan daya yang dihasilkan ke jaringan (expor) ketika sel surya memproduksi daya berlebih sehingga ada surplus untuk digunakan nanti. On-grid lebih sederhana karena tidak menggunakan baterei, sehingga lebih hemat investasinya dibanding off-grid, namun tidak memberikan daya cadangan selama pemadaman jaringan.
On-grid cocok untuk daerah yang memiliki akses listrik PLN 24 jam, perkotaan, rumah, bangunan bisnis, kantor pemerintahan, bangunan layanan publik lainnya untuk melakukan efisiensi dan pengurangan biaya listrik bulanan.
SISTEM OFF-GRID
Sistem off-grid memungkinkan menyimpan tenaga surya dalam baterai untuk digunakan ketika jaringan listrik mati atau jika tidak ada jaringan. Namun, off-grid membutuhkan biaya perangkat lain seperti inverter sentral/string, meteran kWh dan baterai.
Off-grid cocok untuk daerah tidak memiliki sambungan PLN, daerah yg memiliki sambungan PLN namun belum berfungsi 24 jam sehingga perlu cadangan daya. Daerah yg menggunakan genset atau sistem pembangkit daya lainnya dan perlu bantuan daya energi surya. Cocok jg untuk daerah yg jauh, terpencil, pulau terluar dan kepulauan, perbatasan, pedalaman hutan, lautan lepas, atau lokasi ekstrim lain yg tidak memiliki sumber listrik mandiri.















