PT PLN (Persero) siap untuk mendukung pengembangan instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).
Vice President Public Relations PLN Arsyadani Ghana Akmalaputri mengatakan bahwa perseroan siap untuk menjadi pembeli listrik dari PLTSa yang akan dikembangkan di 12 kota di Indonesia.
“PLN siap mendukung pengembangan pemanfaatan energi baru terbarukan yang ramah lingkungan, andal dan mengedepankan aspek teknologi berwawasan lingkungan. Sebagai BUMN, PLN pun siap menjalankan penugasan yang diberikan pemerintah,” katanya
Sebelumnya, Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini menuturkan bahwa perseroan telah menunjukkan komitmennya untuk membeli listrik dari PLTSa Benowo 9 megawatt (MW) di Surabaya yang baru saja diresmikan pada Kamis (6/5/2021). PLN bekerja sama dengan IPP (independent power producer) PT Sumber Organik sampai dengan 2032 dengan harga beli listrik sebesar US$13,35 sen/kWh.
Dia mengakui bahwa harga beli listrik dari PLTSa cukup mahal. Namun, menurutnya, hal itu tidak terlalu membebani biaya pokok penyediaan (BPP) listrik PLN.
“Kami paham listrik dari PLTSa Benowo ini tarifnya yang harus kami bayar itu sekitar Rp1.900 per kWh. Tetapi ini kan di-mixed dengan PLTU yang hanya sekitaran Rp500—Rp600 per kWh. Kalau tadi US$13 sen, pembangkit lain kan hanya US$6—US$ 7 sen,” kata Zulkifli dalam sebuah diskusi, Jumat (7/5/2021).
“PLN masih bisa menjalankan tugas menerangi Indonesia tidak hanya dengan PLTSa, tetapi juga pembangkit lain yang relatif lebih murah. BPP PLN kalau di-mixed itu sekitar Rp1400 per kWh,” katanya.








