PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memastikan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) bakal menjadi tulang punggung untuk pemenuhan energi pasca 2031 mendatang.
Executive Vice President Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan PLN Edwin Nugraha Putra mengatakan, produksi energi yang saat ini hampir mencapai 300 TWh akan naik tinggi hingga 1.800 Twh di 2060 mendatang. Untuk memenuhi ini, masih akan ada pembangkit fosil yang masuk ke dalam sistem hingga 10 tahun mendatang.
Salah satu jenis pembangkit EBT yang bakal diandalkan yakni Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Saat ini, Edwin menyebut, masih banyak komponen impor yang digunakan untuk PLTS.
“Tentunya kita harapkan jika nanti solar akan masuk dalam sistemnya nanti kita berharap industri solar itu sudah ada di negeri kita, bukan menjadi importir sehingga biaya sebesar Rp 9.000 triliun ini (tidak) terpaksa kita kirimkan ke luar negeri sana,” kata Edwin, Rabu (8/12).
Edwin melanjutkan, selain mendorong PLTS, PLN juga siap mengoptimalkan jenis pembangkit EBT lainnya seperti air dan panas bumi.
Untuk program jangka pendek, PLN berencana mempercepat masuknya sejumlah pembangkit EBT yang ada dalam Proyek 35 GW agar beroperasi di 2025 mendatang.
“Pembangunan PLTP sebesar 1,4 GW dan PLTA sebesar 4,2 GW kami percepat, kami usahakan percepat sehingga dapat beroperasi pada tahun 2025,” imbuh Edwin.
Sumber Kontan, edit koranbumn














