Fenomena penurunan tanah menjadi permasalahan di DKI Jakarta. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya infrastruktur yang berada di bawah elevasi permukaan laut. Permasalahan ini membawa PT Indra Karya (Persero) untuk turut terlibat dalam Proyek Penanggulangan Penurunan Tanah di Jakarta.
Berdasarkan metode pengukuran geodesi Survei GPS, InSAR, setiap tahunnya terjadi penurunan muka tanah di Jakarta dengan kisaran antara 3 sampai 10 cm, dan penurunan muka tanah ini disebabkan oleh pengambilan air tanah yang dalam. Hal ini memicu peningkatan resiko banjir. Penurunan muka tanah di Jakarta paling banyak terjadi di daerah Pluit, Cakung, Cengkareng, dan Muara Baru.
Proyek Penanggulangan Penurunan Tanah di Jakarta diprakarsai oleh JICA (Japan International Cooperation Agency) sebagai lembaga bantuan bilateral dari Jepang yang mendukung pembangunan di negara berkembang memberikan pengalaman dan model contoh Tokyo dalam konsep penanggulangan penurunan tanah. Proyek bantuan oleh pemerintah Jepang ini disebut PCLSJ (Promoting Countermeasures against Land Subsidence in Jakarta).
Konsultan dari Jepang Yachiyo Engineering Consultant bersama PT Indra Karya (Persero) melalui Divisi Survey & Investigasi Indra Karya , terlibat dalam serangkaian kegiatan ini. Salah satunya programnya adalah pembangunan Sumur Pemantau Penurunan Tanah dengan metode “double tube monitoring well”. Metode ini telah sukses dilaksanakan Divisi Survey & Investigasi Indra Karya pada tahun 2019 pada pekerjaan pembangunan 2 Stasiun Sumur Pemantau Penurunan Tanah yang berlokasi di Cakung, Jakarta Timur dan Kebun Bibit Cengkareng, Jakarta Barat, dengan kedalaman pengamatan masing-masing stasiun 3 lapisan tanah pada kedalaman 300 m, 150 m dan 30 m.
Pada tahun 2022 ini, Divisi Survey & Investigasi PT Indra Karya (Persero) kembali dipercaya untuk melaksanakan pembangunan Stasiun Sumur Pemantau Penurunan Tanah yang berlokasi di beberapa wilayah dengan penurunan tanahnya cukup ekstrim, yaitu Muara Baru, Jakarta Utara.
















