Holding BUMN Danareksa berkomitmen meningkatkan skala entitas anggota holding melalui transformasi dan penguatan sinergi. Direktur Utama PT Danareksa (Persero) Arisudono Soerono mengatakan hal ini selaras dengan visi holding untuk menjadi perusahaan spesialis transformasi berstandar dan berskala internasional.
“Dengan sinergi kuat yang terjalin, diharapkan dapat membangun ekosistem yang saling mendukung antaranggota holding,” ujar pria yang akrab disapa Ari saat media gathering Holding BUMN Danareksa di Hotel Swiss-Bel, Surakarta, Jawa Tengah (Jateng), dalam keterangan yang diterima Rabu (30/11/2022).
Ari menyampaikan Danareksa berhasil menjalankan berbagai transformasi internal maupun eksternal dalam waktu yang relatif singkat. Holding BUMN Danareksa saat ini membawahi 15 anak usaha dan asosiasi yang terbagi dalam sejumlah subklaster seperti jasa keuangan, kawasan industri, konstruksi, serta media dan teknologi.
“Masing-masing subklaster memiliki sejumlah strategi untuk mentransformasikan bisnis agar dapat lebih bersaing pada skala global,” lanjut Ari.
Ari menyampaikan upaya menjadi spesialis transformasi tentu menghadapi tantangan mengingat terdapat beragam jenis bisnis dalam tubuh Holding Danareksa. Namun, Ari sampaikan, semua tantangan ini dapat diatasi. Hal ini terbukti dengan lahirnya Indonesia Water Fund (IWF) pada Oktober 2022 atau tiga bulan setelah holding berdiri. Ari menyebut program ini merupakan bentuk sinergi konkret antar anggota holding yang berdampak positif bagi percepatan akses air bersih di Indonesia.
“Holding Danareksa juga terus bergerak maju dengan meluncurkan Lokananta Reload pada Ahad (27/11/2022) di Surakarta, Jawa Tengah. Melalui satu anggota holding, PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), Lokananta yang tadinya mati suri kini bergema kembali dalam acara Lokananta Reload,” ucap Ari.
Ari mengatakan transformasi yang saat ini dilakukan Holding Danareksa sudah sesuai dengan arahan Menteri BUMN Erick Thohir yang mana tiap perusahaan BUMN diharapkan dapat memberikan kontribusi tidak hanya melalui peningkatan pendapatan tetapi juga dampak kepada industri terkait.
“Terutama kepada masyarakat. Bersama-sama, kami bersinergi menjadi sebuah kekuatan yang diharapkan menjadi lebih besar yang berkontribusi pada bangsa,” kata Ari.
Direktur Investasi Danareksa Chris Soemijantoro mengatakan, sebagai Holding baru, Danareksa memiliki ragam inisiatif strategis untuk menciptakan nilai baru pada anggota holding. Selain itu, lanjut Chris, berbagai proyek strategis pun turut masuk dalam daftar to do list Danareksa.
Untuk dapat berkontribusi lebih terhadap pendapatan pemerintah dari BUMN, Chris katakan, Danareksa telah mempersiapkan subklaster Kawasan Industri menjadi kelompok pengelola kawasan yang menawarkan range lokasi dan layanan terlengkap bagi investor.
Selain melakukan standardisasi layanan, lanjut Chris, Kawasan Industri akan menyediakan layanan-layanan pendukung terstandar untuk memberikan pelayanan komprehensif bagi tenant sehingga mendatangkan recurring income.
“Dengan transformasi ini, laba klaster Kawasan Industri pun mulai mengalami peningkatan yang signifikan. Tercatat laba klaster Kawasan Industri pada 2020 mencapai Rp 167 miliar menjadi Rp 517 miliar pada 2021,” ujar Chris.
Chris menyampaikan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) yang kini juga dikelola Holding Danareksa hadir menambah jumlah kawasan yang dimiliki melalui Kawasan Industri Wijayakusuma. KITB merupakan salah satu kawasan yang masuk dalam daftar proyek Strategis Nasional yang berlokasi di Batang, Jawa Tengah.
Chris menjelaskan KITB menjadi kawasan industri pertama milik BUMN yang bersandingan dengan hamparan gunung dan laut serta memiliki wilayah yang cukup luas yang mana sebagian besar lahan telah diisi berbagai tenant internasional.
Selain itu, ucap Chris, Holding Danareksa juga memiliki PPA yang bertugas sebagai BUMN Titip Kelola dan jasa advisory. Chris menyebut perusahaan ini juga disiapkan sebagai perusahaan turnaround terdepan di Indonesia dalam bidang restrukturisasi, pengelolaan NPL, dan investasi.
“PPA kini tengah melakukan revitalisasi dan pengembangan salah satu tempat bersejarah atau titik nol industri musik Indonesia, yakni Lokananta, studio rekaman pertama di Indonesia yang didirikan pada 1956,” ungkap Chris.
Sumber Bisnis, edit koranbumn














