Beberapa emiten BUMN resmi menerima dukungan pendanaan baik dalam bentuk penyertaan modal maupun pinjaman pemegang saham (shareholder loan/SHL) dari Danantara Indonesia melalui holding operasional, PT Danantara Asset Management alias DAM.
Berdasarkan catatan Investor Daily, ada tiga emiten BUMN yang sudah resmi memperoleh bantuan modal jumbo dari Danantara terhitung sejak 2025 hingga awal 2026. Berikut daftar nama emiten pelat merah penerima modal Danantara:
1. PT Kimia Farma Tbk (KAEF)
Kimia Farma merupakan emiten BUMN farmasi yang baru-baru ini mengumumkan kepastian terkait perolehan dukungan modal berupa SHL sebesar Rp846 miliar dari Danantara yang disalurkan lewat Bio Farma selaku holding. Pinjaman jumbo tersebut mencerminkan 25,7% dari nilai kekayaan KAEF.
“Pinjaman Pemegang Saham ini akan memberikan dampak positif terhadap kinerja perseroan karena digunakan untuk menambah modal kerja dalam menjalankan kegiatan operasional perseroan, sehingga ke depan diharapkan kinerja perseroan dapat meningkat serta menjamin keberlangsungan usaha perseroan,” jelas manajemen KAEF dalam pengumuman resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dikutip, Selasa (6/1/2026).
2. PT Krakatau Steel Tbk (KRAS)
Sama seperti Kimia Farma, emiten berkode saham KRAS ini juga resmi menerima suntikan modal dari Danantara dalam bentuk SHL dengan total nilai mencapai Rp4,9 triliun atau setara US$295 juta. SHL tersebut terdiri dari pinjaman modal kerja sebesar Rp4,18 triliun dengan tenor lima tahun dan pinjaman sebesar Rp752 miliar untuk pendanaan program pengunduran diri secara sukarela melalui skema golden handshake (GHS) dan program penyehatan dana pensiun KRAS melalui mekanisme lump sum window (LSW) dengan tenor minimal enam tahun.
“Sehubungan dengan terdapatnya urgensi berkaitan dengan kelangsungan usaha, khususnya terkait operasional perseroan, maka sebagai bagian pendanaan modal kerja perseroan dalam restrukturisasi, perseroan telah menandatangani perjanjian pemegang saham dengan DAM pada 19 Desember 2025,” tulis manajemen KRAS.
KRAS akan memanfaatkan pinjaman sejumlah Rp4,9 triliun tersebut untuk mendanai beberapa kebutuhan penting. Pertama, sebesar Rp4,18 triliun untuk membeli bahan baku pabrik HSM dan pabrik cold rolled coil (CRC) serta mendukung pemenuhan bahan baku pabrik pipa. Kedua, sebesar Rp752 miliar untuk mendukung program efisiensi melalui pelaksanaan program GHS dan program penyehatan dana pensiun Krakatau Steel melalui mekanisme LSW.
3. PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA)
Sebelum KAEF dan KRAS, Danantara sudah lebih dulu menyuntikkan modal jumbo kepada emiten maskapai pelat merah, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dengan total nilai US$1,4 miliar atau ekuivalen Rp23 triliun yang terdiri dari modal tunai sebesar Rp17 triliun dan konversi pinjaman pemegang saham (shareholder loan/SHL) sebesar Rp6,65 triliun.
Garuda akan menggunakan sebanyak 37% atau setara Rp8,5 triliun dari total suntikan modal Rp23 triliun untuk modal kerja dan operasional perusahaan yang mencakup pembayaran biaya perawatan dan perbaikan pesawat sebesar US$111,3 juta dari SHL dan Rp6,8 triliun dari penambahan modal tunai untuk pesawat tertentu yang jatuh periode di 2025/2026. Adapun perawatan dan perbaikan akan dilakukan oleh anak usaha Garuda, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI).
Kemudian, 63% atau setara Rp14,5 triliun akan digunakan GIAA untuk meningkatkan modal kepada entitas usahanya, Citilink, melalui skema konversi SHL menjadi modal dan setoran modal tunai yang diestimasikan berlangsung pada Desember 2025.
Nantinya, 47% dari Rp14,5 triliun tersebut akan Citilink pakai untuk membiayai modal kerja dan operasional yang meliputi pembayaran biaya perawatan dan perbaikan pesawat. Dan, 16% sisanya akan digunakan Citilink untuk melunasi utang pokok pembelian avtur kepada Pertamina sebesar US$225 juta atau setara Rp3,7 triliun (asumsi kurs Rp16.690 per US$).
“Penggunaan dana hasil PMTHMETD ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap perbaikan posisi keuangan perseroan, meningkatkan ekuitas, memperkuat struktur permodalan, serta mendukung keberlanjutan usaha perseroan dan entitas anak di masa yang akan datang,” beber manajemen Garuda.
Emiten BUMN yang Masih Antre Suntikan Modal Danantara
1. PT Indofarma Tbk (INAF)
INAF menjadi emiten BUMN farmasi yang masih antre uluran tangan dari Danantara setelah KAEF resmi mengantongi pinjaman. Terkait dukungan modal dari Danantara, Direktur Utama Indofarma Sahat Sihombing menyampaikan, INAF bersama Bio Farma selaku holding sudah mengusulkan kepada Danantara dan sedang berproses di Danantara.
“Kami berdoa. Yang jelas, kami sudah maksimal dan menyajikan data terbaik. Tinggal kami menunggu bagaimana keputusan pemegang saham, dalam hal ini Danantara,” ungkap Sahat dalam konferensi pers di Jakarta baru-baru ini.
Indofarma, demikian Sahat, cukup berharap suntikan modal dari Danantara bisa segera cair untuk memastikan keberlanjutan bisnis perusahaan. Sebab, kucuran dana dari Danantara akan digunakan INAF untuk memenuhi kebutuhan modal kerja. “Kami belum bisa sampaikan besaran angkanya,” jawab Sahat ketika diminta menyebutkan besaran dana yang dimohonkan perseroan kepada Danantara.
2. PT Timah Tbk (TINS)
Emiten pertambangan, PT Timah Tbk (TINS) juga tengah merancang proposal yang akan dimohonkan kepada Danantara untuk menginjeksi modal anak usaha perseroan, PT Timah Industri selaku yang menjalankan bisnis produk hilirisasi timah.
Anak usaha TINS yang beroperasi di Cilegon, Banten tersebut berencana memproduksi beberapa produk hilirisasi seperti tin solder, tin chemical, hingga tin powder yang saat ini dalam proses pengembangan.
Direktur Pengembangan Usaha PT Timah Tbk (TINS), Suhendra Yusuf Ratuprawiranegara, mengungkapkan bahwa terkait hilirisasi, Danantara telah berkomitmen mendukung baik hilirisasi maupun proses hulu PT Timah.
“Saya sempat mendengar dan beberapa kali rapat dengan Pak Rosan (CEO Danantara) menyampaikan itu. Artinya, kami pun tengah menyiapkan semacam proposal bisnis yang dilakukan PT Timah Industri untuk kiranya dapat diinjeksi atau investasi yang bisa dilakukan oleh Danantara terhadap PT Timah Industri,” kata Suhendra dalam paparan publik di Jakarta, Kamis (20/11/2025).
3. Emiten BUMN Karya
Emiten BUMN Karya yang dibekap banyak persoalan keuangan juga tidak luput dari perhatian Danantara. Bahkan, sebelum Danantara dibentuk, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) sudah memperoleh dukungan modal jumbo dari negara melalui penyertaan modal negara (PMN). Adapun, untuk sekarang, fokus Danantara terhadap emiten BUMN Karya adalah melakukan konsolidasi atau merger yang diekspektasikan tuntas pada semester I-2026.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria berterus terang, problematika perusahaan BUMN Karya banyak sekali termasuk di dalamnya menyangkut restrukturisasi utang. “Jadi, problem keuangan di perusahaan karya-karya ini cukup dalam. Kita harus transparan juga kepada publik,” ucap Dony kepada media dikutip, Kamis (27/11/2025).
Dony belum sampai pada kesimpulan skenario atau opsi (konsolidasi) mana yang akan menjadi keputusan akhir. Sebab, Danantara masih terus mengkaji bentuk-bentuk terbaik dari merger BUMN Karya tersebut. Namun yang pasti, BUMN Karya akan dimerger.
“Mergernya sudah pasti. Karena kami akan melakukan supaya perusahaan-perusahaan karya kita menjadi lebih kuat ke depannya. Ini yang akan kami lakukan kajian-kajian. Ada beberapa opsi,” tutur Dony.
Oleh sebab itu, Danantara melanjutkan inisiatif merger BUMN Karya hingga tahun depan (2026) bersamaan dengan masih berlangsungnya kajian-kajian dan restrukturisasi keuangan. “Jadi, kami carry over ke tahun depan (2026). Khusus untuk perusahaan BUMN Karya tidak selesai tahun ini (2025). Kuartal pertama kami akan lakukan merger,” tandasnya.
Sumber InvestorId, edit koranbumn














