Perum Bulog mendapatkan suntikan dana berupa pinjaman lunak senilai Rp39,1 triliun seiring peningkatan target serapan beras dan jagung pemerintah pada tahun ini.
Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani usai rapat koordinasi terbatas di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat pada Senin (12/1/2026).
“Tambahan dana Bulog untuk pengadaan beras 4 juta ton, dan 1 juta ton jagung itu mendapat dukungan Rp39,1 triliun dengan skema pinjaman OIP [operator investasi pemerintah] dengan bunga rendah,” kata Rizal.
Menurutnya, skema pinjaman OIP tersebut hanya dikenakan bunga sebesar 2%, jauh lebih rendah dari biaya bunga di perbankan yang bisa mencapai 7%.
Dengan demikian, Rizal mengaku bahwa Bulog tidak akan terlalu terbebani dari segi operasional dalam peningkatan serapan beras dan jagung.
“Kalau menggunakan biaya bunga komersial yang di atas 7%, ini agak berat untuk Bulog menghandle tersebut,” ujar purnawirawan TNI berbintang tiga ini.
Terpisah, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan menargetkan panen raya padi nasional dapat berlangsung lebih awal pada Februari 2026, dibandingkan umumnya yang berlangsung pada Maret.
Zulhas menyampaikan bahwa langkah ini dilakukan dalam rangka peningkatan target stok cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 4 juta ton pada tahun ini.
“Diperkirakan produksinya lebih tinggi dari pada tahun 2025, sekitar 5-10% lebih tinggi lagi,” kata Zulhas.
Menurutnya, pemerintah menargetkan stok cadangan beras di gudang Perum Bulog dapat dipertahankan pada angka 4 juta ton setiap tahunnya hingga 2029 mendatang.
Oleh karenanya, Zulhas menyebut bahwa pembangunan 100 gudang Perum Bulog yang baru akan dilaksanakan pada tahun ini.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















