Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani menyebut tantangan pertama adalah permintaan melemah akibat konsumen yang lebih berhati-hati.
“Kedua, penyesuaian harga kendaraan yang memengaruhi keputusan pembelian. Kondisi ini membuat persaingan pembiayaan menjadi lebih ketat dan menuntut pengelolaan risiko yang lebih cermat,” ucapnya kepada Bisnis, Rabu (14/1/2026).
Untuk menghadapi hal tersebut, ujarnya, BRI Finance melakukan penyesuaian strategi secara selektif, termasuk pricing yang lebih kompetitif sesuai profil risiko.
Selain itu, Aditia menyebut perusahaannya menerapkan fleksibilitas tenor dan penyesuaian uang muka (DP) guna menjaga keterjangkauan bagi nasabah tanpa mengabaikan kualitas portofolio.
“Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga penyaluran tetap sehat dan berkelanjutan,” sebutnya.
Untuk diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan mobil baru oleh industri multifinance terkontraksi 4,65% year-on-year menjadi Rp142,59 triliun.
Menanggapi hal itu, BRI Finance menilai penurunan itu diakibatkan adanya penyesuaian harga jual di pasar, perubahan preferensi konsumen yang mulai mengarah ke alternatif kendaraan hemat energi.
“Serta ketidakpastian ekonomi yang membuat konsumen lebih berhati-hati dalam pengambilan keputusan pembelian,” sebut Aditia.
Oleh karena itu, katanya, perusahaan memproyeksikan bahwa pada 2026 segmen pembiayaan yang berfokus pada kendaraan niaga ringan, segmen produktif, serta kebutuhan mobilitas terjangkau akan menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat dibandingkan segmen mobil penumpang premium.
Sebab itu, dia menegaskan BRI Finance akan terus menyesuaikan strategi produk dan segmentasi nasabah untuk menangkap peluang pertumbuhan tersebut secara selektif dan berkelanjutan.
Adapun, kontribusi pembiayaan mobil baru BRI Finance terhadap total portofolio mencapai 40,05%, sedangkan pembiayaan mobil bekas sebesar 9,87%.
Sementara itu, Aditia membenarkan bahwa terdapat pergeseran preferensi konsumen yang memengaruhi kinerja pembiayaan mobil dari BRI Finance. Saat ini permintaan cenderung mengarah ke segmen kendaraan dengan total biaya kepemilikan yang lebih rendah (seperti LCGC).
“Dan kendaraan yang fungsional untuk kebutuhan keluarga atau aktivitas harian [SUV], sementara minat terhadap kendaraan listrik masih berkembang, tetapi belum menjadi dominan. Pergeseran ini turut memengaruhi komposisi pembiayaan mobil baru dan bekas di pasar,” pungkasnya.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















