Pada konferensi pers, Kamis (15/1/2026), Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menjelaskan bahwa realisasi investasi pada 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun atau tumbuh 10,4% (YoY) dari 2024 yaitu Rp1.714,2 triliun.
Secara terperinci, penanaman modal dalam negeri (PMDN) terkumpul Rp1.030,3 triliun atau tumbuh 26,6% dari 2024 yakni Rp814 triliun. Sementara itu, PMA terealisasi Rp900,9 triliun atau tumbuh 0,1% (YoY) dari 2024 yakni Rp900,2 triliun.
Kendati tetap tumbuh positif, pertumbuhan PMA sepanjang 2025 anjlok apabila dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan investasi asing pada 2024 mencapai 21% (YoY) dari realisasi 2023.
Rosan mengakui bahwa faktor geopolitik maupun ketegangan di sejumlah belahan dunia turut memengaruhi perlambatan investasi dari luar negeri di Indonesia. Dia menyebut ke depannya akan lebih aktif menjalin komunikasi dengan investor luar negeri melalui Pusat Promosi Investasi Indonesia atau Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC) di berbagai negara.
“Kami terus lebih aktif juga untuk keluarnya, IIPC kami juga terus berkomunikasi dengan mereka, untuk investasi ini bisa-bisa terus meningkat,” terangnya di kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Namun demikian, Rosan mengaku lebih memilih sudut pandang bahwa pertumbuhan investasi dari dalam negeri kini menyaingi investasi asing. Berdasarkan data yang dipaparkan olehnya. terjadi pergeseran dominasi investasi yang ada di Indonesia.
Pada 2025, realisasi PMDN terkumpul Rp1.030,3 triliun atau mencapai 53,4% dari total nilai investasi. Sementara itu, PMA lebih rendah yaitu 46,6%.
Kondisi ini berbalik realisasi investasi 2024 lalu, ketika PMA masih lebih besar yaitu 52,5% sedangkan PMDN hanya 47,5%. Perubahan tersebut, klaim Rosan, akibat Danantara yang notabenenya juga dipimpin olehnya.
“Kalau mungkin dulu di dalam negerinya, kalau saya kasih perumpamaan, kalau dulu larinya 10 km per jam, sekarang dalam negerinya tiba-tiba biasanya 10 km jadi 15 km per jam, karena ada faktor Danantara-nya,” terang pria yang juga menjabat CEO Danantara itu.
Menurut Rosan, peran Danantara akan semakin besar pada 2026. Apalagi, target investasi di tahun kedua pemerintahan Prabowo Subianto ini loncat sebesar 19,6% (YoY) ke senilai Rp2.280 triliun. Ini menjadi tahun pertama investasi ditargetkan pemerintah di atas Rp2.000 triliun.
Akan tetapi, Rosan memastikan investasi dalam negeri itu tidak hanya didorong oleh Danantara saja. Dia menyebut superholding BUMN itu akan mendorong proyek-proyek prioritas pemerintah agar turut melibatkan pengusaha di dalam negeri.
Contohnya, proyek Waste To Energy atau pengelolaan sampah. Partisipasi Danantara di proyek itu diperkirakan hanya sekitar 30%, sedangkan sisanya berasal dari investor asing maupun swasta dalam negeri.
“Investor luar ada yang masuk, tetapi di situ pun kami kasih tahu kewajiban harus mengajak investor dalam negeri juga di luar Danantara. Dengan itu harapannya ada nanti transfer of technology, knowledge, jadi walaupun kami yang nge-drive, kami ngajak dunia usaha juga karena kami ingin tumbuh bersama-sama,” paparnya.
Sumber Bisnsi, edit koranbumn















