Pada tahun tersebut, Telkom memulai agenda transformasi jangka panjang bertajuk Telkom 30 yang dirancang untuk periode 2025 hingga 2030.
Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini mengatakan, 2025 menjadi tahun yang spesial karena menjadi titik awal transformasi baru perseroan.
“Di tahun 2025 itu, kami mencanangkan satu transformasi. Jadi a new transformation journey yang kami sebut Telkom 30. Kenapa disebut Telkom 30? Karena itu dari 2025 sampai 2030,” kata Dian dalam Coffee Time With May di kanal YouTube Bisniscom, Selasa (20/1/2026).
Menurut Dian, transformasi tersebut ditujukan untuk mendorong pencapaian target yang lebih tinggi, baik dari sisi kinerja keuangan maupun nilai perusahaan.
Dalam transformasi Telkom 30, perusahaan menetapkan empat pilar utama sebagai fondasi perubahan bisnis. Pilar pertama adalah operational excellence, yang berfokus pada penguatan fundamental usaha.
“Jadi ini seperti bagaimana kita memperbaiki fundamentals of our business, governance-nya, kemudian juga capital allocation-nya, culture dari organization,” tutur Dian.
Pilar kedua adalah streamlining, di mana Telkom berupaya menyederhanakan struktur grup perusahaan yang saat ini memiliki lebih dari 60 anak usaha agar menjadi lebih ringkas dan efisien.
Selanjutnya, pilar ketiga adalah perubahan struktur holding dari sebelumnya bersifat operasional menjadi strategis. Adapun, pilar keempat adalah unlock value, yakni upaya membuka nilai aset Telkom yang selama ini belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi perusahaan.
“Unlocking value dari aset-aset yang selama ini boleh dibilang itu tersembunyi. Jadi tidak di-value oleh investor. Itu yang dilakukan tahun lalu,” ujarnya.
Sejalan dengan pilar pertama transformasi, Telkom juga melakukan pembenahan pada bisnis eksis, khususnya pada segmen business to consumer (B2C) yang menjadi kontributor terbesar pendapatan perusahaan melalui Telkomsel.
Dian menjelaskan, fokus utama diarahkan pada perbaikan kinerja Telkomsel, terutama dalam menjaga stabilitas pendapatan rata-rata per pengguna atau average revenue per user (ARPU) yang sempat tertekan akibat persaingan harga.
Melalui berbagai inisiatif sepanjang 2025, Telkom menargetkan ARPU dapat kembali stabil dan meningkat secara berkelanjutan ke depan. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif, meskipun secara tahunan kinerja belum sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan signifikan.
“Mungkin untuk the whole year itu, year-on-year-nya kurang menggembirakan. Tapi pergerakan dari quarter ke quarter itu positif,” katanya.
Hingga kuartal III/2025, Telkom membukukan pendapatan lebih dari Rp109 triliun. Dari sisi profitabilitas, perusahaan juga mampu menjaga kinerja tetap solid dengan EBITDA margin sekitar 49–50%.
Menurut Dian, capaian tersebut menjadi hasil yang signifikan mengingat 2025 merupakan tahun awal pelaksanaan transformasi besar perusahaan.
“Jadi, mengingat bahwa kita melakukan itu dengan setting up new transformation journey, itu adalah pencapaian yang luar biasa,” pungkasnya.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















