Bank Indonesia (BI) melaporkan total insentif likuiditas makroprudensial yang telah disalurkan otoritas per Januari 2026 mencapai Rp397,9 triliun. Pemberian insentif dilakukan guna mempercepat penurunan suku bunga kredit, sejalan dengan penurunan suku bunga kebijakan BI.
Insentif tersebut masing-masing disalurkan kepada kelompok bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Bank Umum Swasta Nasional (BUSN), Bank Pembangunan Daerah (BPD), dan Kantor Cabang Bank Asing (KCBA).
“Hingga minggu pertama Januari 2026 total insentif KLM mencapai Rp397,9 triliun,” kata Gubernur BI Perry dalam Konferensi Pers Hasil RDG Bulanan Januari 2026, Rabu (21/1/2026).
Perinciannya, kelompok Bank BUMN sebesar Rp182,9 triliun, BUSN sebesar Rp174,7 triliun, BPD sebesar Rp33,1 triliun, dan KCBA sebesar Rp7,2 triliun.
Berdasarkan sektornya, Perry menyebut bahwa insentif KLM ini disalurkan kepada sektor-sektor prioritas yakni sektor Pertanian, Industri, dan Hilirisasi, Jasa termasuk Ekonomi Kreatif, Konstruksi, Real Estate, dan Perumahan, serta UMKM, Koperasi, Inklusi, dan Berkelanjutan.
Adapun, Perry mengungkapkan bahwa transmisi suku bunga kebijakan terhadap suku bunga perbankan terus berlanjut, termasuk suku bunga kredit, meski langkah-langkah lanjutan perlu terus dilakukan guna menurunkan suku bunga kredit.
Pada Desember 2025, BI mencatat suku bunga kredit perbankan mulai menurun yaitu sebesar 39 bps dari 9,2% pada awal 2025 menjadi sebesar 8,81%.
Sementara itu, BI melaporkan pertumbuhan kredit pada Desember 2025 sebesar 9,69% secara tahunan (year on year/YoY), meningkat dibandingkan bulan lalu yang hanya tumbuh 7,74%.
Perry Warjiyo menyampaikan pertumbuhan kredit pada Desember 2025 berada di kisaran target kredit 2025 yang ditetapkan otoritas moneter, yakni di kisaran 8-11% YoY.
“Kredit perbankan tumbuh sebesar 9,69% YoY, berada dalam kisaran perkiraan Bank Indonesia sebesar 8-11% ” ungkapnya.
Berdasarkan kelompok penggunaan, Perry mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi pada 2025 masing-masing sebesar 21.06%, 4,52%, dan 6,58%.
“Ini sejalan dengan upaya BI untuk menurunkan suku bunga dan memperkuat kebijakan likuiditas makroprudensial serta realisasi program prioritas pemerintah di tengah kondisi makro dan keuangan yang terjaga,” pungkasnya.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















