Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menilai alokasi jumbo itu akan bertindak sebagai katalis positif struktural bagi pasar modal.
Dari perspektif perbankan, investasi Danantara pada sektor energi, pangan, hilirisasi, dan kawasan terpadu akan menciptakan efek ganda pada penyaluran kredit. Bank BUMN dinilai berada pada posisi paling strategis untuk menangkap lonjakan permintaan kredit korporasi dan pembiayaan proyek tersebut.
“Proyek strategis yang bersifat pemerintah dan berjangka panjang cenderung memiliki risiko gagal bayar yang lebih rendah, sehingga berpotensi menjaga NPL [non-performing loan] tetap terkendali dan mendukung risk adjusted return perbankan,” ucap Imam saat dihubungi Bisnis, Senin (26/1/2026).
Adapun, stabilitas pertumbuhan kredit yang didukung oleh kepastian investasi pemerintah juga akan meningkatkan visibilitas laba serta menopang tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE) bank pelat merah.
Selain pendapatan bunga, bank-bank besar ini turut berpotensi meraup pendapatan berbasis komisi (fee-based income) dari layanan sindikasi, treasury, hingga jasa penasihat keuangan bagi proyek-proyek Danantara.
“Secara relatif, valuasi perbankan BUMN masih berada di bawah rata-rata historisnya dan peers regional. Dengan katalis investasi pemerintah yang kuat, ruang rerating masih terbuka,” pungkas Imam.
Di sisi lain, skema investasi terpusat ini diyakini mampu menarik kembali minat investor institusi dan asing ke pasar modal Indonesia. Kehadiran Danantara dipandang sebagai penguat kredibilitas kebijakan yang mampu mengurangi kekhawatiran global terkait risiko tata kelola dan pendanaan.
Hal tersebut, kata Imam, membuat saham bank BUMN yang memiliki likuiditas tinggi menjadi semakin layak koleksi, terutama di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional di level 5%–5,2% pada periode 2026–2027.
Sementara itu, dengan adanya katalis dari Danantara yang menurunkan risiko eksekusi proyek strategis, pasar diperkirakan akan mulai memperhitungkan perbaikan arus kas dan stabilitas aset ke dalam harga saham.
“Dalam jangka menengah panjang, pasar akan mulai price-in dampak ke pertumbuhan laba, kualitas aset, dan arus kas yang lebih stabil,” tutur Imam.
Sebelumnya, CIO Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menyampaikan dana investasi US$14 miliar diperoleh dari setoran dividen BUMN, serta rencana penerbitan obligasi kedua dalam beberapa bulan mendatang.
“Tahun lalu kami sudah berkomitmen sekitar US$8 miliar … tetapi total tahun ini mencapai US$14 miliar yang harus kami gunakan,” ujarnya dalam Reuters Global Markets Forum di Davos, Swiss, pada Kamis (22/1/2026).
Sementara itu, Stockbit Sekuritas menyebutkan alokasi dana investasi itu akan menyasar sejumlah proyek strategis pada 2026, baik melalui investasi langsung maupun pasar publik. Sederet proyek bahkan telah memasuki tahap awal.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn














