PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk. (TUGU) atau Tugu Insurance mengungkapkan pelemahan daya beli masyarakat dan ketatnya persaingan pemasaran menjadi tantangan utama dalam penjualan produk asuransi kendaraan bermotor.
Direktur Pemasaran Tugu Insurance Ery Widiatmoko mengatakan, untuk menghadapi kondisi tersebut perseroan memfokuskan strategi pada pendekatan direct to end customer, diferensiasi layanan, relevansi produk, serta penguatan kemitraan strategis.
“Di tengah kompetisi yang semakin intens tersebut, Tugu Insurance juga menekankan diferensiasi pada kualitas layanan, relevansi produk, dan kemitraan strategis,” ungkap Ery kepada Bisnis, dikutip Kamis (29/1/2026).
Menurut Ery, permintaan terhadap asuransi kendaraan bermotor tidak terlepas dari penguatan dan perluasan kemitraan strategis yang bersifat kolaboratif dan bernilai tambah, serta transformasi teknologi menuju model bisnis yang lebih adaptif, digital, dan berorientasi pada nasabah.
Untuk mendongkrak pendapatan premi dari lini usaha kendaraan bermotor, Tugu Insurance berfokus pada transformasi digital dan peningkatan pengalaman pelanggan. “Perusahaan terus mengembangkan konsep digital access melalui total experience, yaitu pemanfaatan teknologi untuk menyederhanakan dan mempercepat seluruh proses yang dirasakan oleh nasabah,” katanya.
Selain itu, perseroan menyiapkan seamless end-to-end process melalui integrasi proses bisnis secara menyeluruh, mulai dari akuisisi, underwriting, hingga klaim. Strategi tersebut ditujukan untuk memastikan setiap tahapan layanan berjalan lebih lancar, transparan, dan minim hambatan.
Ery optimistis, kombinasi strategi tersebut tidak hanya mendorong pertumbuhan pendapatan premi, tetapi juga membangun fondasi bisnis yang berkelanjutan. “Fokus pada digitalisasi dan efisiensi proses diyakini akan memperkuat daya saing perusahaan di tengah dinamika industri otomotif dan asuransi yang terus berkembang,” ujarnya.
Ia menambahkan, kinerja asuransi kendaraan bermotor Tugu Insurance sepanjang 2025 masih memberikan kontribusi yang stabil terhadap total premi perseroan, meskipun porsinya tercatat masih di bawah 10 persen.
“Meskipun belum menjadi lini dominan, angka tersebut menunjukkan adanya stabilitas kontribusi sekaligus potensi pertumbuhan yang signifikan di masa mendatang,” ucap Ery.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pendapatan premi industri asuransi umum dari lini usaha kendaraan bermotor pada November 2025 mengalami penurunan. Berdasarkan data industri, pendapatan premi tercatat sebesar Rp18,47 triliun atau terkontraksi 4,03 persen secara tahunan (year on year).
“Sejalan dengan itu, nilai klaim tercatat sebesar Rp7,19 triliun, juga menurun 3,22% secara tahunan,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono dalam lembar jawaban Rapat Dewan Komisioner OJK Desember 2025, Selasa (27/1/2026).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















