Indonesia Battery Corporation (IBC) atau PT Industri Baterai Indonesia (IBC) memastikan proyek pabrik baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Karawang, Jawa Barat telah memiliki offtaker atau pembeli.
IBC baru saja memulai pembangunan fasilitas produksi battery cells, module & pack di kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Karawang melalui PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).
CATIB merupakan perusahaan patungan IBC dengan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co., Limited, Brunp, Lygend (CBL). Adapun, CBL merupakan joint venture Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL), Brunp, dan Lygend.
Direktur Utama IBC Aditya Arif menuturkan, pihaknya telah memiliki offtaker untuk proyek tersebut. Menurutnya, kepastian offtaker menjadi keniscayaan supaya investasi terus berkelanjutan.
“Jadi saat ini memang untuk yang pabrik di Karawang itu sudah memiliki offtaker semua alhamdulillah,” ucap Aditya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (2/2/2026).
Kendati demikian, dia belum bisa membocorkan siapa saja offtaker yang dimaksud. Aditya hanya menegaskan bahwa kepastian offtaker menjadi fokus utama dalam mengembangkan proyek.
Dia mengatakan, tatkala perusahaan melakukan ekspansi, kepastian offtaker harus disepakati terlebih dahulu.
“Dan ke depan juga memang ketika misalnya nanti akan dilakukan ekspansi, itu pun tentunya kami akan mengutamakan offtake agreement itu terlebih dahulu karena memang di dalam prosedur kami juga memang mengharuskan adanya offtaker sebelum kita melakukan investasi,” jelas Aditya.
Asal tahu saja, IBC melalui CATIB membangun fasilitas produksi battery cells, module & pack yang direncanakan memiliki kapasitas awal sebesar 6,9 GWh pada fase pertama. Selanjutnya, produksi akan diekspansi hingga mencapai kapasitas total 15 GWh pada fase kedua.
Managing Director Technology Advancement Danantara Indonesia Dwi Susanto mengatakan, negara hadir untuk mendorong pembentukan industri strategis berbasis teknologi yang menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurutnya, melalui inisiatif strategis ini, Indonesia tidak hanya memperkuat kapasitas manufaktur baterai nasional, tetapi juga membangun penguasaan teknologi, peningkatan kapabilitas SDM, serta integrasi sistem industri hulu dan hilir kendaraan listrik.
“Dengan demikian, penciptaan nilai tambah ekonomi yang lebih besar dan berkelanjutan bagi Indonesia dapat terwujud,” ujar Dwi dalam acara Ceremony First Incoming Equipment to Cell dikutip melalui keterangan resmi, Kamis (15/1/2026).
Proyek yang dibangun di AIH dengan total luas 43 hektare ini, terdiri atas dua fasilitas utama. Pertama, module & pack (MP) plant yang groundbreaking ceremony-nya dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto pada Juni 2025, dan telah diselesaikan pembangunan serta instalasi battery manufacture equipment pada Januari 2026.
Dwi mengatakan, ini adalah fasilitas inti, berupa rangkaian mesin yang bekerja dalam sistem otomatis untuk merakit baterai menjadi produk siap pakai bagi industri kendaraan listrik.
Kedua, cell plant yang pembangunannya tengah dilanjutkan. Ini merupakan fasilitas untuk memproduksi unit dasar sel baterai, untuk kemudian siap dirakit menjadi modul dan paket baterai untuk kendaraan listrik dan aplikasi energi lainnya.
Dwi menyebut, fasilitas produksi battery cells, module & pack di Karawang ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada akhir 2026. Menurutnya, pabrik itu mampu menjadi tonggak bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah dari kekayaan sumber daya alam mineral, hingga meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di setiap produk kendaraan listrik di Indonesia.
Sumber Bisnis, edit koranbumn
















