Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memicu waktu tunggu kapal, meskipun sebagian besar kapal tetap dilayani sesuai jadwal sandar yang telah ditetapkan melalui sistem berthing window.
“Sebagian besar kapal datang sesuai jadwal dan dapat langsung dilayani. Apabila terjadi waktu tunggu, umumnya masih dalam kisaran 15 hingga 30 jam,” ujar Widyaswendra, Senin (2/2/2026).
Sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas, Pelindo Terminal Petikemas akan mendatangkan empat unit quay container crane (QCC) dan 14 unit rubber tyred gantry (RTG) ke TPS Surabaya pada 2026. Selain itu, TPK Berlian juga dijadwalkan menerima dua unit QCC pada pertengahan tahun ini.
“Kami terus melakukan perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pelayanan di seluruh wilayah kerja, mulai dari Belawan hingga Merauke,” katanya.
Dari sisi pengguna jasa, Ketua DPC Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Surabaya Steven Handry Lesawengan mengakui sempat adanya laporan keterlambatan bongkar muat peti kemas di TPK Berlian yang disebabkan oleh kesiapan alat.
Namun demikian, INSA telah melakukan komunikasi dengan pengelola terminal untuk mencari solusi. Menurutnya, pengelola terminal bersikap terbuka dan kooperatif, serta tidak pernah terjadi antrean kapal hingga berhari-hari.
“Kami memiliki kesepakatan dengan terminal apabila terjadi kendala pelayanan agar kegiatan bongkar muat tetap berjalan,” ujar Steven.
Sementara itu, Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur Sebastian Wibisono menilai peremajaan peralatan bongkar muat menjadi kebutuhan mendesak seiring peningkatan arus peti kemas dan ukuran kapal yang semakin besar.
Dia berharap rencana penambahan alat tidak hanya dilakukan di TPS Surabaya, tetapi juga di terminal peti kemas lainnya, khususnya TPK Berlian, guna menjaga daya saing Pelabuhan Tanjung Perak sebagai gerbang logistik utama di kawasan timur Indonesia.
Sumber Bisnis, edit koranbumn













