CTO Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan, penugasan kepada PT PAL harus diiringi keterlibatan luas pelaku industri galangan kapal di berbagai daerah.
“Tentunya PT PAL ini tidak bisa sendiri. PT PAL harus dibantu oleh ekosistem teman-teman yang ada di Indonesia ini, apakah yang di Batam, Riau, Sumatra, di Jawa ataupun di Lombok dan lain-lain,” kata Sigit dalam agenda Diskusi Strategis Industri Maritim, Kamis (5/2/2026).
Dia menilai penguatan ekosistem industri galangan kapal nasional sangat penting dengan menempatkan PT PAL Indonesia sebagai jangkar yang bekerja secara kolaboratif, bukan berjalan sendiri. Langkah ini dipandang strategis untuk menjawab besarnya kebutuhan kapal sipil maupun pertahanan dalam negeri.
Sigit juga menyoroti keberadaan produsen utama (major manufacturers) dan original equipment manufacturer (OEM) dalam negeri yang perlu segera diintegrasikan dalam rantai pasok industri perkapalan nasional.
Berdasarkan pengamatannya, jumlah galangan kapal di Indonesia jauh lebih banyak dari yang selama ini terlibat aktif dalam proyek-proyek besar.
“Tadi saya lihat ada 22 perkapalan di Indonesia, mungkin kita punya 200 di Indonesia ini. Ini mungkin kalau kita bisa pertahankan lagi, kita akan mapping siapa mengerjakan apa,” tuturnya.
Pemetaan kemampuan tersebut dinilai mendesak karena beban tugas PT PAL ke depan semakin kompleks. Selain memproduksi kapal sipil, perusahaan pelat merah itu juga memegang peran penting dalam pembangunan kapal pertahanan.
“Tugas PT PAL juga cukup berat, tidak hanya di civilian ships, tapi juga untuk defense ships. Jadi mungkin nanti sebagai orkestratornya dan akan bekerja bersama-sama teman-teman sebagai ekosistem, apakah BUMN atau BUMS,” ujarnya.
Melalui pendekatan orkestrasi ini, Danantara berharap akan tercipta pembagian peran yang jelas di antara pelaku industri sehingga kapasitas nasional dapat dimaksimalkan dan ketergantungan pada luar negeri dapat ditekan.
Sebelumnya, dalam agenda RDP Komisi VI di DPR RI, Rabu (4/2/2026), COO Danantara Indonesia Dony Oskaria menyebut, proyek-proyek maritim, utamanya pengembangan kapal oleh BUMN diwajibkan untuk membeli dari PT PAL Indonesia.
Dony menyebut bahwa PT PAL akan menjadi anchor atau jangkar daripada perusahaan perkapalan nasional setelah Danantara melakukan merger perusahaan-perusahaan BUMN yang bergerak di industri perkapalan.
“Tetapi dampaknya adalah kita akan mewajibkan seluruh perusahaan-perusahaan yang membutuhkan manufaktur kapal yang berada dalam lingkup Danantara itu diwajibkan dilakukan di PT PAL,” kata Dony dalam pertemuan tersebut.
Dia menerangkan bahwa tujuannya tak lain untuk meningkatkan industri perkapalan nasional. Oleh karena itu, PT Pertamina International Shipping (PIS), PT Pelni, PT ASDP sebagai BUMN industri sektor pelayaran diwajibkan membangun kapal lewat PT PAL.
“Dengan demikian industri ini akan memberikan dampak terhadap employment dan juga tentu mengurangi impor kita,” ujarnya.
Sumber Bisnis, edit koranbumn












