Langkah tersebut merupakan transmisi langsung dari perubahan prospek atau outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Dalam pengumuman resminya, Moody’s menilai ada penurunan koherensi dalam perumusan kebijakan di Indonesia selama setahun. Hal ini berisiko menggerus kredibilitas kebijakan yang menopang stabilitas makroekonomi dan fiskal.
“Komunikasi kebijakan yang kurang efektif telah meningkatkan risiko terhadap kredibilitas Indonesia di mata investor. Perkembangan tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan skor Indonesia dalam Worldwide Governance Indicators untuk efektivitas pemerintah dan kualitas regulasi,” tulis Moody’s.
Meski demikian, Moody’s menegaskan peringkat Baa2 masih layak dipertahankan berkat kekuatan struktural seperti kekayaan sumber daya alam, demografi yang menguntungkan, serta kebijakan moneter yang tetap pruden.
Di sisi lain, Moody’s menilai adanya risiko terhadap kredibilitas kebijakan serta penurunan konsistensi dalam proses perumusan kebijakan setahun terakhir. Kondisi ini dinilai dapat berdampak pada profil kredit perusahaan pelat merah atau BUMN yang memiliki keterkaitan erat dengan pemerintah.
Untuk Hutama Karya (HK), Moody’s menyematkan peringkat penerbit di level Baa3 dengan outlook stabil. Namun, outlook obligasi senior tanpa jaminan yang dijamin pemerintah serta medium term notes (MTN) direvisi menjadi negatif.
Moody’s menilai peringkat HK bergantung pada dukungan negara mengingat perannya sebagai pemegang konsesi tunggal Jalan Tol Trans-Sumatra (JTTS).
Di sisi lain, ada ketidakpastian terkait struktur rencana konsolidasi BUMN konstruksi serta memproyeksikan rasio dana dari operasi terhadap utang perseroan berada di kisaran 5% hingga 7% dalam dua tahun ke depan.
Kondisi serupa dialami oleh Pelindo. Moody’s merevisi outlook peringkatnya menjadi negatif dari sebelumnya stabil, meskipun peringkat penerbit dan surat utang senior ditegaskan tetap di level Baa2.
Penyesuaian tersebut mempertimbangkan kepemilikan penuh pemerintah dan risiko perlambatan arus barang akibat dinamika kebijakan domestik serta perdagangan global. Moody’s juga menggarisbawahi laju penurunan utang Pelindo yang lebih lambat dari perkiraan di tengah belanja modal yang ekspansif.
Sementara itu, PGAS juga mendapatkan revisi outlook menjadi negatif dengan peringkat penerbit tetap di level Baa2. Kinerja PGN dinilai masih terkait erat dengan kondisi ekonomi nasional dan kepemilikan mayoritas pemerintah.
PGN disebut menghadapi tantangan operasional berupa penurunan pasokan dari blok gas utama serta keberlanjutan kebijakan batas atas harga gas domestik.
Berikut daftar penyesuaian peringkat BUMN oleh Moody’s:
– Hutama Karya: Peringkat Baa3, Outlook MTN Negatif
– Pelindo: Peringkat Baa2, Outlook Negatif
– Perusahaan Gas Negara (PGAS): Peringkat Baa2, Outlook Negatif
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn
















