Pada 2025, perseroan membukukan laba bersih konsolidasian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp20,40 triliun, sehingga total dividen itu setara dengan 65% laba perseroan.
Dalam bahan mata acara RUPST 2025 diusulkan nilai dividen tunai tahun buku 2025 senilai Rp13,02 triliun. Perseroan mengimbau kepada pemegang saham untuk dapat menyetujui sebesar 65% atau sejumlah Rp13,02 triliun ditetapkan sebagai dividen tunai.
“Rapat menyetujui usulan mata acara rapat sebagaimana dikemukakan sebelumnya,” demikian disebutkan dalam RUPST BNI Tahun Buku 2025.
Selain itu, para pemegang saham juga menyepakati penetapan 35% atau sejumlah Rp7,01 triliun untuk digunakan sebagai saldo laba ditahan perseroan.
Jika dibagi dengan jumlah saham keseluruhan sebanyak 37,30 miliar saham, maka nilai dividen per saham BBNI tahun buku 2025 yaitu Rp349,26. Adapun, jika dibandingkan dengan harga penutupan BBNI pada perdagangan hari ini yang senilai Rp4.240 per saham, maka rasio dividen per saham yaitu 8,24%.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan keputusan tersebut mencerminkan komitmen Perseroan untuk tetap memberikan nilai optimal kepada pemegang saham sekaligus menjaga fundamental perusahaan melalui penguatan struktur permodalan.
“Sejumlah keputusan strategis yang disepakati dalam RUPST ini merupakan bagian dari upaya menjaga kinerja berkelanjutan serta memperkuat fondasi permodalan Perseroan ke depan,” ujar Okki dalam keterangan tertulis.
Untuk diketahui, sebelumnya perseroan memutuskan untuk menebar dividen senilai Rp13,95 triliun untuk tahun buku 2024. Nilai tersebut setara dengan Rp374,05 per saham.
Para pemegang saham BNI juga menetapkan bahwa 35% dari laba tahun buku 2024 alias Rp7,51 triliun digunakan sebagai saldo laba ditahan perseroan. Lalu pada 2023, perseroan menebar dividen tunai tahun buku 2023 sebesar 50% dari laba bersihnya atau senilai Rp10,45 triliun.
Kinerja 2025
Adapun, BNI meraup laba bersih tahun berjalan senilai Rp20,11 triliun sepanjang 2025. Realisasi itu menyusut 7,15% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp21,66 triliun.
Dari sisi intermediasi, bank pelat merah ini membukukan pertumbuhan kredit sebesar Rp899,53 triliun, meningkat 15,94% YoY dibanding tahun lalu. Sepanjang 2024, BNI menyalurkan kredit senilai Rp775,87 triliun.
Kemudian dari sisi penghimpunan dana, BNI mencatatkan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.040,83 triliun, meningkat 29,21% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp805,51 triliun.
Pertumbuhan DPK pada periode tersebut utamanya ditopang oleh simpanan giro yang tumbuh 43,75% YoY menjadi Rp439,49 triliun dari sebelumnya Rp305,73 triliun.
Simpanan deposito dan tabungan BNI juga mencatatkan pertumbuhan. Tercatat, simpanan deposito meningkat 29,99% YoY menjadi Rp314,87 triliun dan tabungan tumbuh 11,23% YoY menjadi Rp286,46 triliun hingga Desember 2025.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.
“Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif,” kata Putrama dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).
Sumber Bisnis, edit koranbumn













