Berdasarkan laporan keuangan ANTM, dikutip Selasa (31/3/2026), laba tahun berjalan Antam mencapai Rp7,92 triliun pada 2025, melonjak 106% dibandingkan Rp3,85 triliun pada 2024. EBITDA juga naik 56% menjadi Rp10,51 triliun.
Pertumbuhan profitabilitas tercermin dari laba usaha yang melonjak 180% menjadi Rp8,40 triliun, serta laba kotor yang naik 111% menjadi Rp13,68 triliun. Pada saat yang sama, beban keuangan turun 30% menjadi Rp167,10 miliar, memperkuat efisiensi struktur keuangan.
Direktur Utama Antam, Untung Budiharto mengatakan perusahaan mencatatkan pendapatan dan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah, didorong oleh penguatan operasional serta lonjakan kontribusi dari segmen emas dan nikel.
Kinerja ini sekaligus mempertegas ketergantungan Antam pada pasar dalam negeri yang menyumbang hampir seluruh penjualan. Selain itu, efektivitas strategi hilirisasi dan dominasi pasar domestik, di tengah tekanan volatilitas harga komoditas global.
Menurutnya, kinerja tersebut mencerminkan keberhasilan perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan operasional dan pengelolaan keuangan.
“Kinerja operasional yang optimal menjadi kontributor utama dalam memperkuat kinerja keuangan Perusahaan, didukung dengan pengelolaan keuangan yang prudent dalam menjaga soliditas struktur neraca dan posisi keuangan,” ujarnya dalam siaran pers.
Dari sisi top line, pendapatan Antam tumbuh 22% menjadi Rp84,64 triliun. Penjualan domestik mencapai Rp81,10 triliun atau sekitar 96% dari total, menegaskan kuatnya basis pasar dalam negeri.
Segmen emas tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi sekitar 79% terhadap total penjualan. Nilai penjualan emas mencapai Rp66,47 triliun, naik 15% secara tahunan, seiring tingginya permintaan domestik terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai.
Volume penjualan emas tercatat sebesar 37.365 kg, menunjukkan daya serap pasar domestik yang solid.
Sementara itu, segmen nikel menyumbang 18% terhadap total pendapatan dengan nilai Rp14,85 triliun, meningkat 56% dibandingkan tahun sebelumnya.
Produksi bijih nikel melonjak 62% menjadi 16,11 juta wet metric ton, dengan penjualan naik 75% menjadi 14,58 juta wet metric ton, menjadi yang tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
Segmen bauksit dan alumina juga menunjukkan akselerasi, dengan penjualan naik 62% menjadi Rp2,92 triliun. Produksi bauksit melonjak 112% dan penjualannya naik 157%, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Di sisi neraca, total aset Antam meningkat 18% menjadi Rp52,53 triliun. Ekuitas tumbuh 14% menjadi Rp36,60 triliun. Arus kas operasi naik 53% menjadi Rp5,62 triliun, sementara kas dan setara kas melonjak 77% menjadi Rp8,43 triliun.
Penguatan fundamental ini juga diiringi dengan percepatan investasi hilirisasi. Antam tengah mengembangkan proyek manufaktur emas di Gresik, proyek ekosistem baterai kendaraan listrik di Halmahera Timur, serta proyek Smelter Grade Alumina Refinery di Mempawah yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2026.
Selain itu, perusahaan mencatat perbaikan kinerja ESG dengan penurunan skor risiko menjadi 33,36 dari sebelumnya 42,06, mencerminkan penguatan tata kelola dan manajemen risiko.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















