Selain itu, pendapatan komisi yang mencapai Rp3,26 triliun atau tumbuh 1,12% YoY dari periode yang sama tahun lalu turut mendorong raihan laba pada Februari 2026.
Lebih lanjut, perseroan mencatat penurunan pada beban operasional lainnya sebesar 2,39% YoY menjadi Rp9,53 triliun. Pada Februari 2025, beban operasional lainnya BRI tercatat sebesar Rp9,76 triliun.
Sejumlah komponen nonbunga yang menyusut yakni beban promosi yang turun sebesar 47,76% YoY menjadi Rp159,29 miliar dari periode yang sama tahun lalu Rp304,93 miliar. Impairment dan beban lainnya juga tercatat menurun masing-masing sebesar 15,77% YoY dan 14,70% YoY menjadi Rp7,53 triliun dan Rp3,91 triliun.
Hingga bulan kedua 2026, laba operasional BRI berada di posisi Rp9,61 triliun atau meningkat 13,14% YoY dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp8,49 triliun. Pada saat yang sama, perseroan membukukan rugi non operasional sebesar Rp30,45 miliar pada Februari 2026 setelah pada Februari 2025 membukukan rugi senilai Rp223,55 miliar.
Adapun, perseroan mencetak laba tahun berjalan sebelum pajak sebesar Rp9,58 triliun. Raihan itu meningkat 15,83% YoY dari Februari 2025 yang berada di posisi Rp8,27 triliun.
Dari sisi intermediasi, total kredit BRI hingga Februari 2026 mencapai Rp1.346,16 triliun, menanjak 10,49% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp1.218,39 triliun. Sejalan dengan hal itu, aset perseroan tumbuh 6,46% YoY dari Rp1.862,75 triliun menjadi Rp1.983,03 triliun pada Februari 2026.
Di sisi penghimpunan dana, perseroan berhasil menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.508,84 triliun hingga bulan kedua 2026. Realisasi itu tumbuh 9,26% YoY dibandingkan Februari 2025 yang sebesar Rp1.380,91 triliun.
Total DPK pada periode itu utamanya didorong oleh pertumbuhan dana murah (Current Account Saving Account/CASA) sebesar 13,59% YoY menjadi Rp1.017,27 triliun, dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp895,58 triliun.
Sumber Bisnis, edit koranbumn














