Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan bahwa proyek-proyek tersebut merupakan bagian dari rangkaian program strategis pemerintah yang disiapkan untuk memperkuat sektor industri sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Termasuk 21 proyek hilirisasi yang mohon doa restunya juga insyaallah di bulan April ini juga akan semua bisa dilakukan groundbreaking,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan pada Rabu (8/4/2026).
Dia juga mengatakan bahwa pemerintah akan melakukan groundbreaking sebanyak 29 titik di berbagai kabupaten/kota. Prasetyo menjelaskan bahwa awalnya groundbreaking PSEL dilakukan di 33 titik kabupaten/kota. Akan tetapi, seiring dengan penyesuaian-penyesuaian di lapangan, groundbreaking dilakukan di 29 titik.
Prasetyo menjelaskan pemerintah pun tengah mengebut beragam program industrialisasi dan hilirisasi lainnya. Fokus pemerintah adalah mengeksekusi berbagai program pembangunan yang telah direncanakan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP), Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP), dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Sebelumnya, Danantara memang telah resmi melakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai US$7 miliar atau sekitar Rp110 triliun pada Februari 2026. Enam proyek awal ini mencakup sektor mineral, energi terbarukan, hingga integrasi pangan.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan investasi untuk enam proyek tersebut seluruhnya berasal dari pendanaan Danantara.
“Dengan enam proyek ini, total investasinya mencapai sekitar US$7 miliar atau kurang lebih Rp110 triliun. Proyek-proyek ini akan menciptakan sekitar 3.000 lapangan kerja secara langsung, dan jumlahnya akan lebih besar secara tidak langsung,” ujar Rosan dalam konferensi pers.
Dari total nilai investasi tersebut, sektor mineral menjadi kontributor utama. Danantara mengalokasikan sekitar US$3 miliar atau hampir separuh dari total investasi tahap pertama untuk pengembangan smelter aluminium terintegrasi, mulai dari pemrosesan alumina hingga menjadi produk aluminium.
Rosan menambahkan seluruh proyek telah melalui proses studi kelayakan (feasibility study) yang komprehensif guna memastikan keberlanjutan investasi secara komersial.
“Ini merupakan salah satu program prioritas Danantara dalam pelaksanaan investasi. Seluruh proyek dilakukan oleh Danantara dan ke depannya kami optimistis dapat berjalan sesuai dengan rencana,” ucapnya.
Sementara, sejumlah daerah saat ini tengah mempercepat pembangunan fasilitas waste to energy seiring dengan target ambisius pemerintah untuk mencapai 100% sampah terkelola secara nasional pada 2029.
Kementerian Lingkungan Hidup juga telah meneken perjanjian kerja sama (PKS) percepatan pengembangan PSEL dengan sejumlah daerah, di antaranya adalah Provinsi Banten, Provinsi Jawa Tengah untuk kawasan Semarang Raya, dan Provinsi Jawa Timur untuk wilayah Surabaya Raya dan Malang Raya.
Sumber Bisnis, edit koranbumn
















