Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan mengatakan perseroan terus mencermati dinamika industri aviasi global, khususnya fluktuasi harga bahan bakar, guna menjaga keberlanjutan bisnis di tengah proses pemulihan kinerja.
“Garuda Indonesia akan melakukan penyesuaian harga tiket secara proporsional dan terukur dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta kepatuhan terhadap regulator. Evaluasi berkala akan terus kami lakukan seiring perkembangan harga avtur yang dinamis,” ujar Glenny dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (9/4/2026).
Selain penyesuaian tarif, GIAA juga melakukan pengkajian ulang terhadap jaringan rute dan frekuensi penerbangan, terutama pada rute-rute strategis dengan tingkat permintaan tinggi. Langkah ini dilakukan untuk menjaga produktivitas kapasitas sekaligus menekan beban operasional di tengah lonjakan biaya bahan bakar.
Sejalan dengan itu, perseroan juga mengacu pada kebijakan pemerintah melalui Keputusan Menteri (KM) No. 83/2026 yang mengatur penyesuaian komponen biaya tambahan pada tarif penumpang kelas ekonomi domestik. Kebijakan tersebut diperkuat dengan rencana stimulus berupa pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah (DTP) sebesar 11% guna menjaga daya beli masyarakat.
Di sisi lain, tekanan biaya bahan bakar tetap menjadi tantangan utama bagi industri penerbangan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta Utama menjelaskan bahwa avtur merupakan komponen biaya terbesar dalam struktur operasional maskapai.
“Wajar saja jika terjadi tekanan pada sisi margin sehingga akan tergerus. Apalagi, maskapai saat ini tengah mengalami fase penyehatan, sehingga kemampuan menyerap lonjakan biaya menjadi terbatas karena ‘bantal kas’ yang belum tebal,” ujar Nafan.
Menurutnya, kenaikan harga avtur tidak selalu dapat langsung diimbangi dengan penyesuaian tarif akibat adanya jeda waktu (time lag) kebijakan, sehingga maskapai harus menanggung beban tersebut dalam jangka pendek.
Di tengah kondisi tersebut, optimalisasi rute dan frekuensi menjadi strategi kunci untuk menjaga efisiensi operasional. Dengan penyesuaian kapasitas yang lebih selektif, maskapai diharapkan dapat mempertahankan tingkat keterisian penumpang sekaligus menekan tekanan terhadap margin.
Namun demikian, dampak lanjutan dari kenaikan biaya juga berpotensi memengaruhi permintaan, khususnya pada segmen perjalanan wisata. Wakil Ketua Umum Bidang Ekosistem Transportasi Udara Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Elfi Emir menilai kenaikan harga tiket dapat mendorong masyarakat menunda perjalanan atau beralih ke moda transportasi lain.
“Untuk sektor pariwisata, kenaikan tiket tetap akan mengurangi minat terbang,” ujar Elfi.
Meski segmen perjalanan bisnis dan kebutuhan mendesak dinilai masih relatif stabil, tekanan terhadap permintaan secara keseluruhan tetap menjadi risiko yang perlu diantisipasi oleh pelaku industri.
Dengan kombinasi penyesuaian tarif, optimalisasi jaringan penerbangan, serta dukungan kebijakan pemerintah, GIAA berupaya menjaga keseimbangan antara efisiensi operasional dan keberlanjutan pemulihan kinerja di tengah tekanan harga avtur.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















