Berdasarkan komposisinya, penyaluran KUR BTN didominasi oleh KUR kecil sebesar Rp2,04 triliun atau sekitar 75%, sementara KUR mikro mencapai Rp687 miliar atau 25%.
Dari sisi sektor, penyaluran terbesar mengalir ke perdagangan besar dan eceran dengan porsi 59,22%, diikuti sektor akomodasi serta makanan dan minuman sebesar 12,36%, serta konstruksi sebesar 10,08%.
“BTN juga mencatat peningkatan kualitas debitur melalui program KUR naik kelas, hingga Maret 2026, sebanyak 4.719 debitur berhasil meningkatkan skala usahanya, baik melalui peralihan dari KUR mikro ke KUR kecil maupun peningkatan plafon pembiayaan,” kata Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu pada saat media briefing di Bandung, Kamis (9/4/2026).
Penyaluran KUR menjadi bagian dari strategi BTN dalam memperluas bisnis di luar sektor perumahan, sejalan dengan transformasi menuju beyond mortgage.
Di sisi lain, BTN mencatat penyaluran 6 juta unit Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sejak 1976 hingga April 2026 dengan nilai total mencapai Rp530 triliun.
Nixon menyampaikan bahwa capaian tersebut mencerminkan kontribusi jangka panjang BTN dalam membangun ekosistem perumahan nasional yang berkelanjutan.
Menurutnya, BTN tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga menghadirkan solusi keuangan terintegrasi bagi masyarakat.
BTN juga menghadirkan inovasi melalui bundling KPR dengan kebutuhan isi rumah, serta memperluas layanan keuangan dari berbagai fase kehidupan nasabah, mulai dari tabungan, transaksi digital, hingga pembiayaan dan investasi.
Sementara itu, Direktur Consumer Banking BTN Hirwandi Gafar menambahkan bahwa permintaan hunian layak masih tinggi, meski sektor perumahan menghadapi tantangan dari sisi pasokan seperti ketersediaan lahan dan perizinan.
Dari sisi debitur, mayoritas KPR subsidi berasal dari masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan rata-rata penghasilan sekitar Rp4,9 juta per bulan, yang mencakup pekerja informal maupun formal.
Selain KPR, BTN juga memperkuat ekosistem perumahan melalui Kredit Program Perumahan (KPP). Hingga Maret 2026, penyaluran KPP mencapai Rp2,17 triliun kepada lebih dari 3.291 debitur, dengan rincian Rp1,47 triliun untuk sisi supply seperti pengembang dan kontraktor, serta Rp700 miliar untuk sisi demand seperti pembelian dan renovasi rumah.
Dalam transformasi digital, BTN mengembangkan platform Bale Properti yang menyediakan layanan pencarian hingga pengajuan KPR secara end-to-end.
Platform ini telah memfasilitasi lebih dari 521 listing properti dan sekitar 780 pengajuan KPR online per bulan, dengan waktu pemrosesan rata-rata tiga hari.
BTN juga menghadirkan inovasi berbasis keberlanjutan, termasuk program pembayaran angsuran KPR berbasis pengelolaan sampah, serta program BTN Housingpreneur untuk meningkatkan kapasitas pengembang perumahan skala kecil dan menengah.
Ke depan, BTN menargetkan penyaluran KPR sebanyak 240.950 unit pada 2026, sebagai upaya memperkuat ekosistem perumahan dan menghadirkan pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















