Emiten menara telekomunikasi PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel mengungkapkan pengembangan sistem menara terbang atau flying tower system (FTS) berjalan sesuai rencana guna memperluas jangkauan sinyal di wilayah terpencil Indonesia.
Anak usaha Telkom ini memandang target komersialisasi High Altitude Platform Station (HAPS) yang dibidik Airbus pada 2028, sebagai lini masa yang realistis untuk memperkuat infrastruktur digital nasional.
Corporate Secretary Mitratel, Hendra Purnama, mengungkapkan keyakinannya terhadap potensi teknologi yang sering dijuluki sebagai Flying Tower System (FTS) ini. Menurutnya, jendela waktu menuju 2028 berada dalam koridor wajar, asalkan seluruh elemen pendukung industri tumbuh secara beriringan.
Secara teknis, HAPS merupakan wahana terbang yang beroperasi di lapisan stratosfer, sekitar 20 kilometer di atas permukaan bumi. Berbeda dengan satelit yang berada di orbit luar angkasa atau menara konvensional yang tertancap di tanah, HAPS bekerja layaknya BTS yang melayang.
HAPS mampu mencakup area luas tanpa terkendala topografi ekstrem seperti pegunungan atau kepulauan yang sulit dijangkau kabel serat optik.
Progres teknologi ini menunjukkan sinyal positif, terutama pada sisi uji coba teknis dan validasi kemampuan konektivitas. Namun, Hendra mencermati pencapaian tahap komersialisasi menuntut lebih dari sekadar keberhasilan terbang.
Dia menitikberatkan pada kematangan ekosistem industri, kejelasan regulasi ruang udara, serta model bisnis yang berkelanjutan.
“Target komersialisasi HAPS pada 2028 merupakan timeline yang realistis. Catatannya, seluruh aspek pendukung harus dapat berkembang secara selaras,” ujar Hendra kepada Bisnis, Jumat (10/4/2026).
Sebagai raksasa infrastruktur, Mitratel memilih langkah konservatif namun terukur. Perusahaan menerapkan pendekatan bertahap melalui pelaksanaan Proof of Concept (PoC).
Langkah ini krusial untuk mengevaluasi kelayakan implementasi secara masif, sekaligus memastikan integrasi dengan jaringan menara yang sudah ada saat ini berjalan tanpa gangguan teknis.
Jika membandingkan kedua infrastruktur menara konvesional dengan BTS terbang, menara telekomunikasi konvensional memiliki keunggulan pada stabilitas kapasitas data dan kemudahan perawatan fisik karena lokasinya yang statis di permukaan tanah.
Hal ini berbeda dengan Flying Tower System yang menawarkan fleksibilitas luar biasa karena kemampuannya menjangkau wilayah blind spot tanpa perlu pembebasan lahan yang rumit di area hutan atau pelosok.
Meskipun menara darat tetap menjadi tulang punggung utama jaringan di wilayah perkotaan, HAPS hadir sebagai solusi pelengkap yang efisien untuk konektivitas maritim dan daerah tertinggal.
Biaya pembangunan satu menara fisik mungkin lebih terukur, namun untuk menjangkau satu pulau terluar, biaya logistik dan penggelaran kabel bawah laut jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan menerbangkan satu unit BTS ke langit yang mampu mencakup wilayah seluas satu provinsi.
Hendra menambahkan, hasil dari tahapan PoC akan menjadi dasar utama dalam menentukan langkah ekspansi ke depan. Mitratel tetap melihat peluang FTS secara positif, terutama dalam menyiasati tantangan geografis Indonesia yang sangat kompleks.
“Kami memandang peluang ini secara positif sebagai solusi pelengkap konektivitas. Namun, komersialisasi penuh sangat bergantung pada hasil evaluasi teknis, kesiapan regulasi, serta kesesuaian dengan kebutuhan pasar,” tuturnya
Sumber Bisnis, edit koranbumn















