Adapun, produksi PertaminaSAF berbasis limbah minyak jelantah/UCO (used cooking oil) itu dilakukan di Kilang Cilacap.
“Pada bulan Maret 2026 ini, kilang Pertamina Patra Niaga merealisasikan produksi komersial PertaminaSAF guna memenuhi permintaan pelanggan,” kata Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth Dumatubun melalui keterangan resmi, Kamis (16/4/2026).
Produksi komersial ini, kata dia, juga menjadi bukti kemampuan dan kapabilitas Pertamina dalam memproduksi produk berkualitas tinggi yang juga menjawab tantangan dan kebutuhan pelanggan.
“Produksi ini menjadi momentum penting yang meneguhkan komitmen Pertamina Patra Niaga sebagai pionir produsen SAF di Indonesia dan regional,” ujar Roberth.
Pengembangan produksi PertaminaSAF di Kilang Cilacap telah melalui berbagai tahapan panjang. Roberth menjelaskan, perkembangan produksi PertaminaSAF di Pertamina dengan bahan baku minyak jelantah telah dimulai sejak uji coba produksi komersial pada Juli 2025.
Rangkaian proses produksi dimulai dari penyediaan bahan baku minyak jelantah yang telah tersertifikasi International Sustainability Carbon Certification Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (ISCC CORSIA). Kemudian, dilanjutkan dengan proses pengolahan di fasilitas Green Refinery Kilang Cilacap kemudian disalurkan melalui dua lokasi penyaluran Bandara Ngurah Rai Bali dan Bandara Soekarno Hatta.
Produk PertaminaSAF yang dihasilkan telah melalui pengujian kualitas dan memenuhi standar internasional Defence Standard (DEFSTAN) 91-091 untuk spesifikasi avtur serta ketentuan SK Ditjen Migas tentang spesifikasi avtur yang dipasarkan di dalam negeri, yang dilakukan oleh laboratorium Pertamina yang telah tersertifikasi ISO 17025.
Roberth mengatakan, sesuai demand pada Maret, sekitar 45.000 barel PertaminaSAF yang telah memenuhi standar kualitas dan keberlanjutan sebagai CORSIA Eligible Fuel (CEF). SAF itu selanjutnya dikirimkan kepada pelanggan melalui kapal dari pelabuhan Kilang Cilacap ke Bandara Ngurah Rai dan Soekarno Hatta pada akhir Maret 2026.
Dia juga menyampaikan bahwa produksi komersial PertaminaSAF ini merupakan wujud nyata implementasi strategi bisnis perusahaan dalam mengembangkan energi yang lebih ramah lingkungan berbasis limbah.
“Ini juga sekaligus memperkuat posisi Pertamina dalam mendukung transisi energi nasional dan sesuai roadmap untuk menuju net zero emission tahun 2060. Inisiatif ini juga sejalan dengan program Pemerintah dalam meningkatkan kemandirian serta ketahanan energi nasional,” tutup Roberth.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















