PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mengumumkan kinerja keuangan konsolidasian untuk periode tiga bulan pertama yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2026 (1Q26) ke BEI/OJK.
Direktur Utama PTBA, Bapak Arsal Ismail mengatakan:
“Di tengah tantangan curah hujan yang tinggi pada awal tahun, Perseroan mampu menjaga stabilitas penjualan melalui pengelolaan persediaan yang prudent, sekaligus melanjutkan disiplin efisiensi dan selective mining yang mendorong perbaikan struktur biaya. Hasilnya, Perseroan membukukan pertumbuhan laba secara tahunan yang solid, yang merupakan bukti nyata dari ketahanan operasional dan efektivitas strategi yang kami jalankan.”
Ikhtisar
PTBA membukukan laba bersih sebesar Rp0,80 Triliun dan EBITDA sebesar Rp1,55 Triliun, dengan net profit margin dan EBITDA margin berturut-turut di angka 8% dan 16%.
PTBA mencatatkan kinerja operasional yang solid di tengah kondisi curah hujan yang ekstrem, yang ditandai dengan kinerja penjualan yang hanya turun 1% secara YoY walaupun volume produksi turun 22% YoY. Meskipun secara YTD harga batu bara mengalami perbaikan, namun harga jual rata- rata (ASP) relatif hanya naik 1% YoY.
Terkait dengan ketercapaian capital expenditure, sampai dengan Kuartal I- 2026 sudah terealisasi sebesar 13% dari target tahunan atau sebesar Rp0,47 Triliun.
GUIDANCE FY26 PT BUKIT ASAM (PERSERO) TBK
Volume Produksi : 49,55 Juta Ton.
Volume Penjualan : 49,51 Juta Ton.
Volume Angkutan : 41,00 Juta Ton.
Stripping Ratio : 5,63x
Capital Expenditure : Rp3,64 Triliun.
Kinerja Operasional
(Dalam Ton kecuali dinyatakan lain dalam Stripping Ratio)
| 1Q26 | 1Q25 | Selisih | |
| Volume Produksi | 6.623.885 | 8.445.759 | -22% |
| Volume Angkutan | 8.740.539 | 9.407.452 | -7% |
| Volume Penjualan | 10.166.913 | 10.283.074 | -1% |
| Domestik | 5.374.208 | 5.191.334 | 4% |
| Ekspor | 4.792.705 | 5.091.740 | -6% |
| Stripping Ratio | 5,31 | 6,42 | -17% |
Kinerja Keuangan
(Dalam Juta Rupiah kecuali dinyatakan lain dalam Laba per Saham)
| Laba Rugi | 1Q26 | 1Q25 | Selisih |
| Pendapatan Usaha | 9.929.722 | 9.958.441 | 0% |
| Beban Pokok Pendapatan | 8.385.940 | 8.911.252 | -6% |
| Laba Kotor | 1.543.782 | 1.047.188 | 47% |
| Laba Usaha | 878.028 | 442.807 | 98% |
| Laba Tahun Berjalan yang Dapat Diatribusikan kepada Pemilik Entitas
Induk |
801.794 | 391.479 | 105% |
| EBITDA | 1.552.122 | 1.051.720 | 48% |
| Laba per Saham (EPS) | 70 | 34 | 106% |
| Posisi Keuangan | 31 Mar 26 | 31 Des 25 | Selisih |
| Total Aset | 43.228.243 | 43.917.063 | -2% |
| Total Liabilitas | 19.557.671 | 21.300.262 | -8% |
| Total Ekuitas | 23.670.572 | 22.616.801 | 5% |
| Kas dan Setara Kas | 4.192.245 | 4.522.194 | -7% |
| Pinjaman Bank | 2.040.543 | 3.227.525 | -37% |
| Lainnya | 31 Mar 26 | 2026 Target | Ketercapaian |
| Belanja Modal | 467.873 | 3.643.225 | 13% |
Pendapatan Usaha, Harga Jual Rata-rata
PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp9,93 triliun sampai dengan akhir Maret 2026, yang mana relatif sama secara YoY. Meskipun volume penjualan turun 1% YoY, namun respon harga batu bara berbeda pada periode ini, yang mana Newcastle Index naik 14% YoY tetapi ICI-3 turun 2% YoY, berimbas pada penguatan harga jual rata-rata yang tercatat naik 1% YoY. Adapun untuk porsi penjualan sampai dengan akhir Maret 2026 ini, penjualan domestik tercatat sebesar 53%, sedangkan sisanya 47% merupakan ekspor. Pada akhir periode ini, lima negara tujuan ekspor terbesar ditempati oleh Vietnam, Bangladesh, India, Kamboja, dan Thailand.
Beban Pokok Pendapatan dan Beban Operasional
Beban pokok pendapatan terealisasi sebesar Rp8,39 Triliun, atau turun sebesar 6% secara YoY. Penurunan ini seiring dengan penurunan volume operasional, baik produksi batu bara yang turun 22% YoY maupun angkutan yang juga turun 7% YoY. Selain itu, dari sisi stripping ratio juga tercatat lebih rendah di angka 5,31x dari pada periode yang sama tahun sebelumnya di angka 6,42x.
Adapun konflik di Selat Hormuz yang terjadi pada akhir Februari 2026 sudah mulai berdampak pada peningkatan harga BBM/liter, meskipun untuk periode ini masih relatif kecil (+3% YoY). Hal tersebut tentunya akan berdampak pada peningkatan biaya bahan bakar yang digunakan oleh Perusahaan, baik untuk kegiatan penambangan maupun angkutan kereta api.
Di samping itu, secara YoY, beban operasional naik sebesar Rp61,37 miliar atau 10% dari periode yang sama sebelumnya. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh adanya kenaikan di komponen beban umum dan administrasi.
Penghasilan Keuangan, Biaya Keuangan, dan Bagian atas Laba Neto Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama
Perusahaan membukukan penghasilan keuangan sebesar Rp41,27 miliar, atau turun 17% YoY seiring dengan turunnya penghasilan bunga baik dari penempatan kas di bank dan deposito berjangka maupun dari penempatan obligasi. Biaya keuangan tercatat Rp54,04 miliar atau turun 20% YoY seiring dengan penurunan beban bunga dari pinjaman bank. Sedangkan bagian atas laba neto entitas asosiasi dan ventura bersama tercatat Rp 168,04 miliar, atau naik 81% YoY.
Perusahaan membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp801,79 Miliar.
LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN
Total Aset
Total aset pada 31 Maret 2026 tercatat sebesar Rp43,23 triliun atau turun 2% dibandingkan akhir tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp43,92 triliun. Hal tersebut disebabkan oleh penurunan persediaan serta kas dan setara kas Perusahaan.
Total Liabilitas dan Ekuitas
Total liabilitas pada 31 Maret 2026 tercatat turun 8% dari posisi pada akhir Desember 2025 sebesar Rp21,30 triliun, menjadi Rp19,56 triliun. Sedangkan ekuitas tercatat naik 5% dari posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp22,62 triliun menjadi Rp23,67 triliun pada 31 Maret 2026.
LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASIAN
Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi tercatat naik dari sebelumnya Rp1,21 triliun menjadi Rp2,06 triliun atau naik 70% YoY. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh penurunan pembayaran pada jasa pihak ketiga.
Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi tercatat naik dari periode sebelumnya Rp0,42 triliun menjadi Rp1,06 triliun sampai dengan 31 Maret 2026. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh perolehan aset tetap.
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan tercatat naik dari periode sebelumnya Rp0,12 triliun menjadi Rp1,34 triliun sampai dengan 31 Maret 2026. Kenaikan ini seiring dengan pembayaran pinjaman bank.
Belanja Modal
Belanja modal sampai dengan 31 Maret 2026 terealisasi sebesar Rp470 miliar dengan mayoritas digunakan untuk Pengembangan angkutan batu bara relasi Tanjung Enim-Kramasan.
Sebagai penutup, Corporate Secretary Division Head, Bapak Eko Prayitno menyampaikan:
“Capaian pada kuartal ini menunjukkan fondasi operasional Perseroan tetap solid di tengah tantangan eksternal, termasuk kondisi cuaca yang memengaruhi produksi dan kondisi geopolitik yang mulai memanas. PTBA akan terus menjaga disiplin operasional, memperkuat efisiensi, serta memastikan fleksibilitas dalam merespons dinamika pasar dan tantangan eksternal. Dengan fondasi operasional yang solid, Perseroan optimistis dapat terus menjaga kinerja yang sehat dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.”
Sumber Biukit Asam , edit koranbumn












