PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN angkat bicara terkait rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 17 gigawatt (GW) dan battery energy storage system (BESS) sebesar 33 GW sebagai tahap awal pengembangan proyek energi surya 100 GW.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Gregorius Adi Trianto mengatakan, perseroan siap menjalankan arahan pemerintah untuk mengakselerasi pengembangan energi baru terbarukan (EBT) guna mendukung swasembada energi dan target net zero emission (NZE).
Komitmen tersebut telah tecermin dalam arah kebijakan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025—2034 yang memuat pengembangan pembangkit hijau, termasuk PLTS dan sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau BESS.
Menurut Greg, pengembangan PLTS dalam skala besar membutuhkan dukungan sistem penyimpanan energi yang memadai untuk menjaga keandalan dan stabilitas sistem kelistrikan nasional.
Dia memaparkan, karakteristik PLTS yang bergantung pada intensitas radiasi matahari membuat pasokan listrik bersifat intermiten.
Oleh karena itu, BESS diperlukan untuk menjalankan fungsi penyeimbangan sistem, pengaturan frekuensi, serta menyimpan energi saat produksi berlebih dan menyalurkannya kembali ketika produksi menurun atau kebutuhan listrik meningkat.
“Karena itu, kebutuhan kapasitas BESS yang lebih besar merupakan bagian dari strategi untuk menjaga integrasi energi terbarukan dapat berlangsung secara optimal, fleksibel, stabil, dan andal,” ujar Greg saat dihubungi Bisnis, Rabu (3/6/2026).
Greg melanjutkan, PLN juga menyiapkan penguatan infrastruktur kelistrikan guna meningkatkan kemampuan sistem dalam menyerap energi terbarukan dalam jumlah besar.
Dia mengatakan, PLN bersama pemerintah terus memperkuat jaringan transmisi, membangun interkoneksi antarwilayah, serta mengembangkan teknologi pendukung seperti smart grid untuk mendukung integrasi pembangkit energi bersih ke dalam sistem kelistrikan nasional.
Di sisi lain, potensi kelebihan pasokan listrik turut menjadi perhatian dalam penyusunan rencana pengembangan energi surya tersebut. PLN memastikan pembangunan PLTS dan BESS dilakukan berdasarkan proyeksi pertumbuhan kebutuhan listrik serta kondisi sistem existing.
Dengan pendekatan tersebut, penambahan kapasitas pembangkit dapat diselaraskan dengan perkembangan beban dan kebutuhan sistem kelistrikan nasional sehingga tidak menimbulkan ketidakseimbangan pasokan.
“Penguatan jaringan, pemanfaatan teknologi penyimpanan energi seperti BESS, serta koordinasi dan perencanaan yang matang menjadi faktor penting agar pengembangan energi surya dapat mendukung transisi energi, ketahanan energi dan sistem kelistrikan nasional yang berkelanjutan,” katanya.
Sumber Bisnis, edit koranbum
















