CEO Danantara Rosan Roeslani menggelar pertemuan dengan jajaran direksi PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Kedua perusahaan pelat merah itu diwakili langsung oleh direktur utama. Mereka yakni Direktur Utama Antam Untung Budiharto dan Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif.
Tampak Rosan juga didampingi oleh Director Holding Operasional Danantara Febriany Eddy. Pertemuan itu fokus membahas hilirisasi mineral.
“Kami membahas penguatan hilirisasi nikel, mulai dari peran PT Nusa Karya Arindo [NKA] sebagai pemegang IUP [izin usaha pertambangan] di sisi hulu, hingga konektivitas hulu-hilir sebagai fondasi ekosistem industri baterai nasional,” tulis Rosan melalui akun Instagram resminya, @rosanroeslani, Selasa (13/1/2026).
Danantara, kata Rosan, mendorong investasi jangka panjang dengan tata kelola yang kuat dan prinsip keberlanjutan. Menurutnya, hal ini agar nilai strategis sumber daya Indonesia tumbuh dan tetap berada di dalam negeri.
Investasi di sektor hilirisasi mineral dan energi memang tengah menjadi fokus pemerintah. Pada pekan lalu, Rosan bahkan menemui Presiden Prabowo Subianto untuk membahas sejumlah proyek hilirisasi bernilai US$6 miliar.
Menurut Rosan, sejumlah proyek hilirisasi strategis yang akan memasuki tahap groundbreaking pada Januari 2026.
Khusus Antam dan IBC, kedua perusahaan itu tengah terlibat dalam megaproyek ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicles/EV) terintegrasi di Karawang, Jawa Barat. Proyek tersebut dinamai Proyek Dragon.
Proyek itu dikerjakan bersama konsorsium asal China Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL). Sebagai informasi, CBL merupakan joint venture (JV) Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL), Brunp, dan Lygend.
Dimulainya pembangunan grand package proyek baterai berbasis nikel senilai US$5,9 miliar atau setara Rp96,04 triliun (asumsi kurs Rp16.278 per dolar AS) tersebut ditandai dengan peresmian peletakan batu pertama (groundbreaking) pada Juni 2025.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)Bahlil Lahadaliamengungkapkan bahwa Proyek Dragon bakal diresmikan pada semester I/2026. Dia mengatakan, pabrik baterai tersebut menjadi salah satu proyek hilirisasi nikel untuk ekosistem baterai mobil yang didukung oleh pemerintah.
“Khusus untuk hilirisasi nikel, ekosistem baterai mobil yang tahun kemarin di-groundbreaking oleh Presiden Prabowo di Karawang yang punya CATL, direncanakan pada semester I/2026 itu sudah kita resmikan,” kata Bahlil dalam Capaian Kinerja ESDM 2025, Kamis (8/1/2025).
Pemerintah meyakini proyek dengan nilai investasi US$5,9 miliar ini akan menghasilkan 8 kali lipat nilai tambah senilai US$48 miliar.
Terlebih, adanya ekosistembaterai listrikterintegrasi itu bisa mendorong adopsi kendaraan berbasis energi terbarukan. Harapannya, hal itu bisa menciptakan penghematan negara sekitar US$58 miliar per tahun untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM), listrik, dan impor BBM.
“Jadi berarti sudah ada dua pabrik baterai kita di Indonesia yang ekosistem baterai mobil dari bahan baku nikel,” kata Bahlil.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















