PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) membukukan pertumbuhan laba bersih tahun berjalan sebesar 3,69% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp3,41 triliun per Februari 2026. Raihan itu meningkat dibandingkan Februari 2025 yang senilai Rp3,29 triliun.
Dalam laporan keuangan bulanan, perolehan laba BNI pada bulan kedua 2026 didorong oleh pendapatan bunga yang tumbuh 14,05% YoY menjadi Rp11,95 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp10,48 triliun. Pada saat yang sama, beban bunga perseroan juga meningkat 13,85% YoY menjadi Rp4,99 triliun hingga Februari 2026.
Dengan demikian, BNI membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp6,95 triliun, naik 14,19% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp6,09 triliun.
Selain pendapatan bunga bersih, raihan laba perseroan juga ditopang oleh pendapatan komisi yang menanjak 10,93% YoY dari Februari 2025 senilai Rp1,57 triliun menjadi Rp1,75 triliun pada Februari 2026.
Bank berlogo 46 itu mencatatkan peningkatan beban operasional lainnya. Hingga Februari 2026, beban operasional lainnya meningkat 31,15% YoY menjadi Rp2,82 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp2,15 triliun.
Salah satu komponen nonbunga yang membengkak yakni impairment. BNI mencatat impairment perseroan meningkat 51,91% YoY dari Rp969,19 miliar pada Februari 2025 menjadi Rp1,47 triliun pada Februari 2026. Selain impairment, beban tenaga kerja juga menanjak sebesar 16,22% YoY menjadi Rp2,57 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp2,21 triliun.
Hingga Februari 2026, laba operasional perseroan mencapai Rp4,13 triliun, tumbuh 4,90% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp3,93 triliun. Pada saat yang sama, laba non operasional mencapai Rp456,00 juta, menyusut 82,19% YoY dari Februari 2025 yang sebesar Rp2,56 miliar. Laba tahun berjalan sebelum pajak tercatat sebesar Rp4,13 triliun, meningkat 4,85% YoY dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp3,94 triliun.
Dari sisi fungsi intermediasi, kredit yang disalurkan BNI mencapai Rp882,22 triliun per Februari 2026. Realisasi itu meningkat 18,90% YoY dibandingkan Rp741,99 triliun pada Februari 2025. Penyaluran kredit yang meningkat turut mendorong pertumbuhan aset BNI sebesar 30,41% YoY menjadi Rp1.390,44 triliun pada bulan kedua 2026.
Di sisi penghimpunan dana, total dana pihak ketiga (DPK) BNI tercatat sebesar Rp1.092,24 triliun atau tumbuh 40,95% YoY dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp774,92 triliun.
Pertumbuhan DPK pada bulan ini utamanya didorong oleh simpanan deposito yang melonjak 67,03% YoY menjadi Rp376,14 triliun. Pada Februari 2025, simpanan deposito berada pada level Rp225,20 triliun.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn











