Direktur Risk Management BNI David Pirzada menyampaikan angka tersebut setara 22% dari total kredit yang disalurkan perseroan hingga akhir Desember 2025.
“BNI secara konsisten mengimplementasikan langkah-langkah strategis di seluruh aspek operasional dan pembiayaan guna memperkuat praktik keberlanjutan,” kata David dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).
Adapun total pembiayaan tersebut disalurkan ke berbagai sektor. Di antaranya, energi terbarukan, pengelolaan sumber daya alam dan penggunaan lahan, pengelolaan air dan limbah, serta segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
David mengatakan, BNI akan terus memperluas pembiayaan pada sektor-sektor prioritas hijau ke depannya, termasuk energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Menurutnya, keberlanjutan tidak sekadar kepatuhan terhadap regulasi, tetapi telah menjadi fondasi strategi bisnis BNI dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
Di sisi lain, BNI juga berkomitmen menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), serta pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Komitmen itu tecermin dari penerbitan Sustainability Bond senilai Rp5 triliun pada 2025 dengan peringkat idAAA. Framework Sustainability Bond BNI telah mendapat Second Party Opinion (SPO) dari Sustainalytics dengan hasil credible and impactful.
Selain itu perseroan juga telah menerbitkan Green Bond senilai Rp5 triliun yang dialokasikan untuk mendukung pembiayaan berwawasan lingkungan dan sosial, serta penyaluran Sustainability Linked Loan (SLL) kepada perusahaan yang telah menunjukkan peningkatan kinerja keberlanjutan.
Tidak hanya pembiayaan, bank berlogo 46 itu juga meluncurkan ESG Advisory Playbook untuk subsektor kelapa sawit. Sebagai informasi, ESG Advisory Playbook merupakan panduan transisi bagi debitur.
Sumber Bisnis, edit koranbumn













