Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian auditan tahun buku 2025, perseroan juga mencatatkan EBITDA sebesar Rp6,08 triliun dengan margin EBITDA di level 14%.
Direktur Utama PTBA Arsal Ismail mengatakan, kinerja perseroan tetap terjaga di tengah tekanan harga batu bara global sepanjang 2025. Perseroan juga mencatat perbaikan profitabilitas secara kuartalan yang didorong oleh optimalisasi portofolio pasar ekspor serta peningkatan efisiensi biaya.
“Kinerja tersebut tercermin dari pertumbuhan volume produksi dan penjualan yang tetap positif.” ujarnya dalam rilis resmi, Rabu (1/4/2026).
Dia menambahkan, realisasi belanja modal yang optimal menjadi fondasi penting dalam mendukung keberlanjutan serta pertumbuhan kinerja operasional perseroan ke depan.
Secara operasional, PTBA mencatatkan pertumbuhan produksi sebesar 9% secara tahunan (year-on-year/YoY) yang diikuti peningkatan volume penjualan sebesar 6% YoY.
Namun, kinerja tersebut dihadapkan pada pelemahan harga batu bara global. Harga jual rata-rata (average selling price/ASP) tercatat turun 6% YoY seiring penurunan Newcastle Index sebesar 22% dan ICI-3 sebesar 16%.
Dari sisi pendapatan, PTBA membukukan Rp42,65 triliun sepanjang 2025, relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Penjualan domestik mendominasi dengan porsi 54%, sementara ekspor menyumbang 46% dengan tujuan utama ke Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina.
Adapun beban pokok pendapatan meningkat 5% YoY menjadi Rp36,39 triliun, sejalan dengan kenaikan volume produksi dan angkutan. Kenaikan biaya juga dipengaruhi oleh implementasi B40 serta pencabutan subsidi FAME yang mendorong harga bahan bakar.
Di sisi neraca, total aset PTBA meningkat 5% menjadi Rp43,92 triliun pada akhir 2025, didorong oleh kenaikan aset tidak lancar. Sementara itu, liabilitas naik menjadi Rp21,30 triliun, sedangkan ekuitas relatif stabil di kisaran Rp22,62 triliun.
Arus kas dari aktivitas operasi tercatat meningkat 24% YoY menjadi Rp6,26 triliun, mencerminkan perbaikan penerimaan dari pelanggan dan pengembalian pajak.
Belanja modal (capex) sepanjang 2025 terealisasi sebesar Rp4,55 triliun atau sekitar 63% dari target tahunan, yang mayoritas digunakan untuk pengembangan angkutan batu bara relasi Tanjung Enim–Kramasan.
Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno menambahkan, perseroan terus memperkuat strategi efisiensi untuk menjaga kinerja di tengah dinamika pasar global.
“PTBA terus memperkuat strategi cost leadership sebagai fondasi utama dalam menjaga kinerja di tengah dinamika pasar global,” ujarnya.
Dia menambahkan, meskipun harga batu bara mengalami tekanan sepanjang tahun, perseroan tetap menunjukkan resiliensi dengan kinerja yang positif.
Menurutnya, dengan dukungan strategi pemasaran yang adaptif dan efisiensi operasional yang berkelanjutan, PTBA optimistis dapat memanfaatkan momentum perbaikan harga ke depan sekaligus memperluas portofolio usaha yang berkelanjutan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn












