Saat ini, Hery menyebut bahwa kondisi permodalan BRI sangat memadai, tercermin dari CAR BRI yang berada pada level 23,53% hingga akhir 2025. Angka itu jauh di atas ketentuan regulator.
“Mempertimbangkan kondisi tersebut, seyogyanya kami memiliki ruang untuk memberikan dividen dengan payout ratio yang lebih tinggi dibandingkan dengan level histori yang selama ini ada,” ungkap Hery dalam Konferensi Pers Laporan Kinerja Keuangan BRI Kuartal IV?2025 yang digelar secara virtual pada Kamis (26/2/2026).
Selain untuk menghasilkan kondisi permodalan yang optimal, Ketua Umum Perbanas itu mengungkapkan bahwa langkah ini menjadi upaya perseroan guna memberikan nilai tambah yang berkelanjutan kepada para pemegang saham.
Menurutnya, dengan pembagian dividen yang lebih besar, return on investment (ROI) BRI akan lebih tinggi, dibanding posisi saat ini. “Kalau misalnya dividennya lebih besar diberikan, return on equity-nya BRI juga akan lebih tinggi,” ujarnya.
Kinerja Keuangan BRI 2025
Untuk diketahui, BRI membukukan laba bersih konsolidasian senilai Rp57,13 triliun sepanjang 2025. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di Harian Bisnis Indonesia, laba tersebut berasal dari pendapatan bunga Rp207,78 triliun, meningkat 4,27% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan Rp199,27 triliun pada 2024. Sementara, pada tahun sebelumnya, laba bersih BRI mencapai Rp60,3 triliun.
Dari sisi beban bunga, tercatat senilai Rp57,28 triliun atau terdapat kenaikan sebesar 1,20% YoY dari Rp56,61 triliun. Meski demikian, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) senilai Rp150,50 triliun, naik 5,52% YoY dari Rp142,65 triliun pada tahun sebelumnya.
Dari sisi intermediasi, kredit yang diberikan dan pembiayaan syariah tercatat Rp1.517,07 triliun, tumbuh 12,67% YoY dibandingkan posisi 2024 sebesar Rp1.348,2 triliun.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kredit yang diberikan yang mencapai Rp1.460,72 triliun, meningkat 12,5% YoY dari Rp1.298,31 triliun pada tahun sebelumnya. Pembiayaan syariah tercatat Rp56,35 triliun, naik 12,9% YoY dibandingkan Rp49,88 triliun.
Dari sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.466,84 triliun, tumbuh 7,42% YoY dibandingkan posisi 2024 sebesar Rp1.365,45 triliun.
Perinciannya, giro tercatat Rp448,20 triliun, meningkat 19,66% YoY dari Rp374,55 triliun pada tahun sebelumnya. Tabungan mencapai Rp587,58 triliun, naik 7,93% YoY dibandingkan Rp544,42 triliun. Sementara itu, deposito tercatat Rp431,05 triliun dari Rp446,46 triliun.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















