Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan, realisasi investasi yang telah dicapai Danantara di sepanjang 2025 mencapai Rp1.937 triliun.
Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan target yang ditetapkan pemerintah kepada sovereign wealth fund (SWF) Indonesia tersebut, yakni senilai Rp1.905 triliun.
“Kalau kita lihat, realisasi (investasi) tahun lalu, target investasi kita sekitar Rp1.905 triliun, dan realisasinya mencapai Rp1.937 triliun,” kata dia, dalam acara Semangat Awal Tahun 2026, di IDN HQ, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).
Tidak sekadar komitmen berupa memorandum of understanding (MoU), investasi yang masuk sudah benar-benar direalisasikan. Bahkan, modal yang masuk tersebut sudah menghasilkan penyerapan tenaga kerja sekitar 2,7 juta orang.
“Ini bukan sekadar memorandum of understanding, tetapi investasi yang benar-benar sudah direalisasikan, sudah dibelanjakan, dan menghasilkan penyerapan tenaga kerja sekitar 2,7 juta orang,” imbuh Rosan.
Di sisi lain, realisasi investasi ini juga ia klaim telah memberikan kontribusi sekitar 28-29 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Karenanya, dengan capaian ini, Rosan menegaskan bahwa saat ini Danantara mengusung strategi investasi berimbang yang diharapkan akan efektif untuk memberikan efek berganda pada perekonomian Indonesia.
Adapun sejumlah upaya yang dilakukan Danantara untuk meningkatkan realisasi investasi di antaranya dengan tetap berfokus pada proyek-proyek yang berkelanjutan dan penguatan kemandirian ekonomi.
“Kita memiliki sejumlah program investasi, baik di dalam negeri maupun luar negeri, yang berorientasi pada keberlanjutan dan pengurangan ketergantungan impor, baik energi maupun sektor lainnya,” tutur dia.
Sementara itu, untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor, Danantara telah berinvestasi pada proyek pengembangan hilirisasi kelapa yang bernilai sekitar 500 juta dolar Amerika Serikat (AS) dan diperkirakan mampu menyerap sekitar 10 ribu tenaga kerja.
Pada saat yang sama, investasi juga digulirkan pada proyek-proyek hilirisasi mineral kritis seperti yang sampai saat ini sudah dilakukan Danantara di Kawasan Industri Morowali.
“Semua ini kami kombinasikan dan analisis. Bukan hanya dari besarnya nilai investasi, tetapi juga dari dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja, dampak lingkungan, serta dampaknya terhadap petani dan pelaku usaha kecil,” tandas Rosan.
Sumber Tirto, edit koranbumn














