Pasar modal Indonesia kini berada di ambang ketidakpastian seiring dengan meningkatnya risiko penurunan klasifikasi indeks dari emerging market menjadi frontier market oleh MSCI.
Ancaman degradasi status ini menjadi sentimen negatif yang melumpuhkan aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga memaksa otoritas bursa menerapkan trading halt selama dua hari berturut-turut.
Adapun isu transparansi saham free float menjadi poin krusial yang dipersoalkan MSCI. Jika regulator gagal memenuhi standar keterbukaan informasi yang diminta, Indonesia berisiko turun kasta dan disejajarkan dengan negara-negara kategori frontier seperti Bangladesh, Pakistan, hingga Tunisia.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan sinyal ketidakpuasan MSCI sebenarnya telah terdeteksi sejak kuartal akhir tahun lalu.
Menurutnya, poin-poin keberatan dari MSCI sudah disampaikan dengan sangat jelas kepada pihak otoritas, sehingga bola panas kini berada di tangan regulator untuk memberikan respons kebijakan yang konkret.
“Saya rasa jika tidak ada perubahan, [IHSG] pasti jatuh. Saya serahkan balik ke peran regulator karena ini sudah fakta terjadi di depan mata,” ucap Pandu dalam Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Dia pun menyampaikan jika status Indonesia turun menjadi frontier market, maka akan ada aliran dana keluar sekitar US$25 miliar hingga US$50 miliar.
Sementara itu, urgensi pembenahan ekosistem pasar modal, terutama terkait praktik manipulasi harga atau “goreng-menggoreng” saham yang selama ini mencederai kepercayaan investor global.
Dia pun mendesak regulator untuk lebih adaptif dan memiliki kemauan politik yang kuat dalam menegakkan standar transparansi guna menyelamatkan marwah pasar modal Indonesia di mata internasional.
“Regulator harus memiliki willingness to listen and react. Jangan melihat ke belakang, look forward. Pasar modal menjadi cerminan kepercayaan bagi investor asing. Pesan saya: never hate the player, hate the game,” tuturnya.
Dalam perkembangan lain, BEI kembali menerapkan trading halt atau pembekuan perdagangan sementara menyusul penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 8% pada Kamis (29/1/2026).
Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menjelaskan bahwa pembekuan perdagangan efektif dilakukan pada pukul 09.26.01 waktu JATS.
Sementara itu, aktivitas transaksi akan dilanjutkan kembali pukul 09.56.01 waktu JATS tanpa adanya perubahan jadwal penutupan perdagangan.
“BEI melakukan upaya ini dalam rangka menjaga perdagangan saham agar senantiasa teratur, wajar, dan efisien,” ujar Kautsar dalam keterangan resmi.
Dia menambahkan bahwa langkah tersebut merujuk pada ketentuan yang diatur dalam Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas serta Surat Keputusan Direksi BEI nomor Kep-00002/BEI/04-2025.
________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn















