Presiden Prabowo Subianto meminta para punggawanya untuk membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru yang nantinya akan bergerak di sektor tekstil. Dalam upaya merealisasikan titah tersebut, pemerintah telah melakukan studi. Sementara Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), bakal menyiapkan modal sebesar 6 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp100,5 triliun (asumsi kurs Rp16.750 per dolar AS).
“Pemerintah telah melakukan studi untuk ini. Dan melalui Danantara, kami akan menyediakan dana 6 miliar dolar AS,” ungkap Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam acara Indonesian Business Council di Jakarta, dikutip Kamis (15/1/2026).
Tidak Hanya itu, rencana ini juga telah dikemukakannya dan dibahas bersama oleh Kabinet Merah Putih dalam retret awal tahun di Hambalang, Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Pada retreat yang bertajuk Taklimat Awal Tahun itu pula, para menteri dan Prabowo sudah membahas peta jalan (road map) penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT).
“Jadi kemarin rapat di Hambalang dengan Bapak Presiden dan kami mengusulkan sudah diselesaikan road map,” tambahnya.
Melalui pembangunan perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang tekstil ini, Airlangga berharap Indonesia tidak akan terlalu tertekan dengan kebijakan tarif resiprokal yang dikeluarkan Gedung Putih. Apalagi, ekspor TPT Indonesia ke AS cukup besar.
Padahal, TPT yang merupakan sektor padat karya menjadi salah satu tumpuan hidup lebih dari 7 juta pekerja di Indonesia.
“Roadmap dibuat agar bagaimana meningkatkan ekspor kita dalam 10 tahun dan bagaimana pendalaman dari value chain daripada industri tekstil,” jelas Airlangga.
“BUMN baru khusus tekstil. Tidak menghidupkan kembali,” lanjutnya.
Meski Danantara bakal menyiapkan modal lebih dari Rp100 triliun untuk membangun BUMN tekstil tersebut, pemerintah menyilakan sektor swasta untuk berinvestasi.
“Dan kami akan memberikan insentif tertentu, termasuk dalam barang modal, teknologi baru, ekspor, proyek substitusi impor,” papar Airlangga.
Dengan strategi ini, ia yakin Indonesia akan bisa meningkatkan ekspor TPT dari kini hanya di kisaran 4 miliar dolar AS menjadi 40 miliar dolar AS dalam kurun waktu 10 tahun. Pun, Indonesia juga diperkirakan bisa menjadi negara produsen TPT terbesar kelima di dunia.
“Dan Indonesia akan menjadi pemain kelima dalam lanskap tekstil ini,” tukas Airlangga.
Sumber Tirto, edit koranbumn














