“Kami mendorong terjadinya industrialisasi di beberapa aspek, yang terutama sekali berkaitan dengan perusahaan-perusahaan yang ada di dalam lingkup Danantara,” kata Dony dalam RDP Komisi VI DPR RI, dikutip Kamis (5/2/2026).
Dia menerangkan bahwa Danantara akan mewajibkan seluruh perusahaan-perusahaan yang membutuhkan manufaktur kapal yang berada dalam lingkup Danantara untuk dilakukan di fasilitas galangan milik PT PAL Indonesia.
“Tujuannya adalah untuk meningkatkan industri perkapalan kita, termasuk di dalamnya PT PIS [Pertamina International Shipping], PT Pelni, PT ASDP ini kita wajibkan untuk melakukan manufaktur kebutuhan kapal mereka di PT PAL,” ujar Dony.
Dengan penataan industri di hulu hingga hilir diharapkan industri bisa tumbuh secara merata dan masif. Hal ini diyakini dapat memperkuat industri nasional.
“Sebagaimana kita yakini di dalam roadmap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dirancang oleh Bapak Presiden Prabowo, bahwa basis pertumbuhan kita ke depan adalah industri. Dengan demikian industri ini akan memberikan dampak terhadap employment dan juga tentu mengurangi impor kita,” tuturnya.
Tak hanya PT PAL, PT Industri Kereta Api (INKA) sebagai manufaktur di sektor perkeretaapian juga akan menjadi penyerap utama dari baja Krakatau Steel.
“Yang kedua adalah berkaitan dengan PT INKA. PT INKA ini juga kita kembangkan, ada tiga manufaktur yang sudah kita miliki, satu di Madiun, satu di Banyuwangi dan kita akan menambah lagi di Banyuwangi. Ini kami juga mewajibkan bahwa seluruh perbaikan daripada industri kereta api kita ke depan itu akan diwajibkan dilakukan di PT INKA, termasuk juga manufakturnya,” terangnya.
Langkah Danantara mendorong INKA sejalan dengan roadmap transportasi yang sedang disiapkan pemerintah yang mendorong transportasi massal yang memadai untuk masyarakat.
“Ini sejalan dengan roadmap transportasi yang disiapkan pemerintah bahwa mass transportation kita akan berbasiskan kereta api, termasuk di dalamnya kami melakukan elektrifikasi di Jakarta Cikampek, Jakarta Rangkas, dan juga Jakarta Sukabumi. Dan kami juga melakukan elektrifikasi di lima kota di Indonesia,” tuturnya.
Dengan kebutuhan yang meningkat di sektor manufaktur, maka diharapkan industri dasar yang digunakan 100% produk Indonesia. Oleh karena itu roadmap dari hulu hingga hilir telah dirancang dan dijalankan Danantara demi mendorong Indonesia sebagai kekuatan industri.
“Karena itu kami berharap, bahwa kebutuhan baja kita hari ini masih didominasi oleh impor bisa diganti dengan baja lokal. Karena itu dengan kita mengembangkan kapasitas baja kita, pabrik baja kita ke depan di sisi upstream, yang kita akan lakukan groundbreaking di bulan depan,” jelasnya.
Untuk diketahui, salah satu proyek hilirisasi yang dilakukan Danantara tahun ini adalah pengembangan hulu (upstream) dari industri baja. Pemerintah akan melakukan groundbreaking pabrik baja hulu pada Maret 2026 dengan kapasitas 3 juta ton.
“Tentu harus ada keberpihakan daripada pemerintah untuk melindungi industri-industri yang sedang kita kembangkan. Karena tanpa daripada keberpihakan, tentu industri ini akan sulit untuk bersaing ke depannya. Keberpihakan kita untuk memajukan industri-industri baja kita, yang ke depannya tentu dapat menjadi suplai bagi industri-industri turunannya,” pungkasnya.
Sumber Bisnis, edit koranbumn














