PT PAL Indonesia menyampaikan bahwa konsolidasi BUMN galangan kapal menjadi langkah untuk menyelamatkan kondisi keuangan sejumlah perusahaan. Konsolidasi ini rencananya akan menempatkan PT PAL menjadi induk alias holding BUMN galangan kapal pelat merah.
Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod menyampaikan bahwa aspek keuangan menjadi salah satu kendala besar BUMN galangan kapal dalam ekosistem maritim Tanah Air.
“Sehingga memang tujuan ini [merger] adalah untuk menyehatkan dan kemudian menyelamatkan dari beban-beban masa lalu, dari galangan-galangan kapalnya,” kata Kaharuddin saat ditemui usai rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Dia melanjutkan, skema penyelamatan tersebut tengah dibahas dengan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia selaku superholding BUMN.
Menurutnya, terdapat berbagai mekanisme yang telah dibahas detail secara internal, kendati Kaharuddin enggan memberikan bocoran.
Dia hanya menyebut bahwa anggaran akan dikucurkan salah satunya melalui bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara alias Himbara.
“Akan melibatkan banyak pihak untuk itu, baik Danantara-nya, Himbara dan sebagainya. Ini melibatkan cukup banyak stakeholder,” ujar Kaharuddin.
Sebagai catatan, saat ini terdapat empat BUMN yang fokus pada pengembangan industri galangan kapal selain PT PAL Indonesia, yaitu PT Industri Kapal Indonesia (Persero) atau IKI, PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero) atau DKB, PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) atau DKS, serta PT Dok dan Perkapalan Air Kantung.
Dalam perkembangan sebelumnya, Danantara Indonesia mewajibkan PT PAL Indonesia menjadi jangkar sekaligus penggerak industri perkapalan nasional. Salah satunya adalah untuk memasok kebutuhan kapal dari BUMN pelayaran seperti Pelni, ASDP, hingga anak usaha Pertamina.
CTO Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan, penugasan kepada PT PAL harus diiringi keterlibatan luas pelaku industri galangan kapal di berbagai daerah.
“Tentunya PT PAL ini tidak bisa sendiri. PT PAL harus dibantu oleh ekosistem teman-teman yang ada di Indonesia ini, apakah yang di Batam, Riau, Sumatra, di Jawa ataupun di Lombok dan lain-lain,” kata Sigit dalam agenda Diskusi Strategis Industri Maritim, Kamis (5/2/2026).
Sumber Bisnis, edit koranbumn














