Direktur Utama SMGR Indrieffouny Indra mengatakan, realisasi tersebut menurun 0,6% dibandingkan 2024 yang sebesar 38,3 juta ton.
“Tetapi sebenarnya perbaikan sudah dilakukan. Semester I/2025 dari 37,8 juta ton kami hanya menjual 17,2 juta ton, tapi untuk semester II/2025 kami bisa tumbuh ke 20,6 juta ton,” kata Indra dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (1/4/2026).
Indra melanjutkan, saat ini, kondisi pasar semen nasional masih mengalami oversupply. Utilisasi pabrik perusahaan hingga saat ini cenderung menurun, utamanya sejak 2019 lalu.
Dia menuturkan, utilisasi pabrik saat ini berada di level 52%, lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelum pandemi pada kisaran 63% pada 2019.
“Penyebabnya adalah karena sejak 2019 tingkat permintaan semen tidak mengalami kenaikan, hanya berkisar di level 63-64 juta ton setahun. Sementara, kapasitas produksi itu mengalami kenaikan dari 111 juta ton sekarang sudah menjadi 122 juta ton,” jelasnya.
Mengingat belum pulihnya permintaan semen dalam negeri, Indra mengatakan, perusahaan akan terus meningkatkan ekspor. Dia mengatakan, sejumlah pembeli dari Bangladesh telah berhubungan langsung dengan SMGR untuk membeli klinker semen.
Selain itu, SMGR juga tengah bersiap melakukan ekspor semen ke kawasan Amerika pada Mei mendatang. Indra melanjutkan, perusahaan juga akan mengekspor semen ke beberapa wilayah lain seperti Australia, Taiwan, dan Réunion Island.
Selain itu, SMGR juga berharap dengan kehadiran program 3 juta rumah yang dicanangkan pemerintah dapat meningkatkan permintaan semen nasional.
“Perkiraannya program 3 juta rumah ini akan membutuhkan semen sekitar 9 juta ton atau 3% dari kapasitas pangsa pasar,” katanya.
Adapun, berdasarkan laporan keuangan 2025, pendapatan SMGR tercatat senilai Rp35,24 triliun atau turun 2,60% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp36,18 triliun.
Selanjutnya, beban pokok pendapatan mengalami penurunan yang lebih terbatas menjadi Rp28,17 triliun atau 0,28% yoy dari sebelumnya Rp28,25 triliun.
Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk merosot 83,62% yoy menjadi Rp177,23 miliar pada 2025, jauh meninggalkan posisi sebelumnya Rp1,08 triliun.
Sumber Bisnis, edit koranbumn










