PT Kimia Farma (Persero)Tbk. (KAEF) memperluas ekspansi layanan berbasis bioteknologi dengan menghadirkan produk terapi sel punca (stem cell) melalui peluncuran brand Stemxera. Langkah ini menandai penguatan strategi perseroan dalam menggarap layanan kesehatan regeneratif di dalam negeri.
Direktur Komersial Kimia Farma Hanadi Setiarto mengatakan, ekspansi ke layanan stem cell merupakan langkah strategis untuk memperkuat portofolio berbasis riset dan inovasi. Perseroan menargetkan terapi regeneratif ini tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.
“Dengan pendekatan layanan yang adaptif, kami optimistis Stemxera dapat mempercepat pemanfaatan terapi stem cell di berbagai fasilitas layanan kesehatan,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Dalam pengembangannya, Stemxera diproduksi di fasilitas laboratorium stem cell milik RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo yang telah mengantongi sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Perseroan menekankan pendekatan evidence-based medicine melalui riset dan uji klinis untuk memastikan keamanan serta efektivitas produk.
Ekspansi ini juga membuka peluang kolaborasi strategis dengan institusi kesehatan dan akademisi, baik di tingkat nasional maupun global. Selain itu, langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kemandirian industri farmasi nasional, khususnya dalam pengembangan terapi untuk penyakit degeneratif dan kebutuhan medis lanjutan.
Sebagai bagian dari holding BUMN farmasi, Kimia Farma terus mendorong integrasi layanan kesehatan dari hulu hingga hilir, termasuk melalui jaringan apotek, klinik, dan laboratorium yang tersebar di seluruh Indonesia. Perseroan menilai pengembangan bioteknologi, termasuk stem cell, akan menjadi salah satu pilar pertumbuhan bisnis ke depan sekaligus mendukung ketahanan kesehatan nasional.
Peluncuran Stemxera dilakukan dalam ajang International Conference Rejaselindo 2026 yang berlangsung di Bali pada 2–4 April 2026. Produk ini mencakup terapi berbasis stem cell dan secretome yang telah dikembangkan sejak 2013, sekaligus menjadi pintu masuk Kimia Farma untuk memperluas akses layanan kesehatan berbasis teknologi tinggi.
Dalam rangka menjaga kelangsungan bisnis dan mendorong pertumbuhan yang lebih sehat, Kimia Farma terus menjalankan transformasi secara menyeluruh di seluruh lini usaha. Hingga kini, Perseroan memiliki 9 fasilitas produksi, 44 cabang trading & distribution, lebih dari 1.000 jaringan apotek, lebih dari 350 klinik kesehatan, dan 65 laboratorium medis.
Ida Rasita Kirin, Corporate Secretary Kimia Farma, menyampaikan transformasi tersebut berfokus pada penguatan fundamental bisnis melalui enam pilar strategi, yaitu ketahanan modal kerja, penguatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), digitalisasi proses bisnis, efisiensi operasional, penguatan tata kelola perusahaan (GCG), dan sinergi antar-entitas KAEF Grup.
Sejalan dengan strategi tersebut, KAEF juga melakukan penajaman fokus bisnis dengan mengutamakan pengembangan dan pemasaran produk dengan margin yang lebih tinggi, serta tetap berkomitmen untuk menyediakan obat untuk mendukung program pemerintah guna menjaga aksesibilitas layanan kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, transformasi digital terus berjalan sebagai bagian dari upaya peningkatan efisiensi dan kualitas layanan, mencakup penguatan sistem operasional, supply chain, serta integrasi data untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat.
Sumber Bisnis, edit koranbumn














