PT Danantara Asset Management (Persero) memberikan sinyal untuk membatasi porsi injeksi modal yang bersifat penyelamatan bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada tahun ini.
Managing Director Danantara Asset Management Febriany Eddy menjelaskan bahwa setelah melewati tahun pertama yang didominasi oleh upaya penyehatan sejumlah BUMN, Danantara kini akan mengalihkan fokus pada penciptaan nilai tambah serta mendorong ekspansi bisnis emiten negara.
“Sekarang tahun kedua harusnya sudah lebih berkurang yang begitu. Tapi kita lebih masuk ke yang value creation, seperti tadi ekspansi, kemudian ada hilirisasi,” tuturnya dalam diskusi daring yang digelar Rabu (14/1/2026).
Langkah itu diambil agar Danantara dapat menjalankan fungsi operasional dalam meningkatkan daya saing BUMN menuju korporasi kelas dunia.
Febriany juga menyatakan bahwa tahun 2026 akan menjadi periode transformasi perusahaan pelat merah untuk melakukan langkah-langkah strategis, yang lebih produktif ketimbang sekadar bertahan hidup.
Selain pengetatan modal, Danantara juga tengah menyiapkan peta jalan ambisius untuk memangkas jumlah BUMN dari semula lebih dari 1.000 perusahaan menjadi hanya sekitar 200 perusahaan.
Skema yang disiapkan meliputi merger, likuidasi, hingga privatisasi bagi unit bisnis yang dinilai tidak sehat tetapi masih memiliki nilai monetisasi.
“Jika ada pihak yang berminat dan bisa melakukan monetisasi lebih baik, opsi jual bisa dilakukan. Yang jelas itu target yang sangat ambisius,” ucap Febriany.
Sepanjang perjalanannya, Danantara tercatat telah memberikan suntikan modal kepada tiga emiten BUMN besar. Pertama, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) menerima total Rp23 triliun yang terdiri dari pinjaman pemegang saham (shareholder loan) sebesar Rp6,65 triliun dan modal tunai Rp17 triliun.
Kedua, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) mendapatkan dukungan berupa shareholder loan senilai Rp4,93 triliun., PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) juga menerima kucuran dana segar melalui skema serupa senilai Rp846 miliar.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber Bisnis, edit koranbumn













