Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menilai tren pergeseran penggunaan transaksi digital semakin meluas. Hal ini turut mengubah perilaku para nasabah bertransaksi layanan perbankan.
Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Aestika Oryza Gunarto mengatakan secara alami adanya digitalisasi serta perubahan perilaku masyarakat menyebabkan keberadaan dan fungsi kantor cabang bank konvensional akan berkurang.
“Pandemi yang terjadi menjadi akselerator digitalisasi tersebut, sehingga mempercepat proses yang ada,” ujarnya ketika dihubungi Republika.co.id, Rabu (27/7).
BRI mencatat per Maret 2021 jumlah outlet konvensional BRI sebanyak 9.241 kantor atau berkurang sebesar 341 dibandingkan dengan jumlah outlet konvensional BRI pada Maret 2020 sebanyak 9.582 kantor. Tercatat sebanyak 341 outlet konvensional terdiri atas kantor cabang pembantu, BRI unit, kantor kas, teras BRI dan teras keliling.
Sedangkan outlet ATM dan CRM, sebanyak 22.689 unit. Angka ini sedikit meningkat apabila dibandingkan posisi Maret 2020 sebanyak 22.476 unit.
“Peralihan gaya bertransaksi masyarakat terlihat dari pertumbuhan transaksi internet banking yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan transaksi ATM,” ucapnya.
Per Maret 2021 transaksi internet banking BRI tumbuh 162,3 persen yoy, sedangkan transaksi pada mesin ATM BRI hanya tumbuh 9,1 persen yoy. Ke depan BRI akan terus fokus dalam menjalankan transformasi digital, dengan fokus pada area bisnis, transaksi, ekosistem dan internal process.
“Pengembangan jaringan BRI akan difokuskan pada Agen BRILink , yang pada akhir Juni 2021 sebanyak 465 ribu orang dengan transaksi mencapai Rp 414 triliun,” ucapnya.
Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menyatakan masa pandemi telah menyebabkan banyak aktivitas dilakukan terbatas, termasuk dengan maraknya work from home. Adapun kondisi tersebut membuat transaksi digital semakin tumbuh karena kecenderungan nasabah yang menginginkan transaksi secara online.
“Pandemi telah mendorong kami untuk mempercepat transformasi layanan digital kami. Ini tentunya tidak terlepas dari komposisi transaksi sekitar 98 persen sudah dilakukan melalui kanal-kanal elektronik kami, dan hanya dua persen transaksi yang masih dilakukan melalui cabang,” ujar Sekretaris Perusahaan BNI Mucharom.
Menurutnya ATM masih menjadi kanal elektronik paling banyak digunakan oleh nasabah BNI, komposisinya sekitar 40 persen dari total transaksi. Setelah ATM, pengguna BNI Mobile Banking berada pada urutan kedua terbanyak.
“Namun, memang dari segi nominal transaksinya, transaksi di ATM hampir sama dengan mobile banking. Kami meyakini, tidak akan lama lagi, mobile banking akan mendominasi karena sesuai dengan pemenuhan kebutuhan transaksi nasabah yang ingin semakin praktis dan nyaman,” ucapnya.
Mucharom menyebut arah layanan perseroan semakin digital ini sangat positif dan menjanjikan pertumbuhan ke depan. Sebab, dari 62 juta sampai 63 juta nasabah sekitar sembilan juta yang telah melakukan transaksi melalui mobile banking, sehingga ruang pertumbuhannya masih sangat lebar.
“Saat ini, kami memiliki tiga layanan digital yang menjadi digital champion BNI yaitu, BNI Mobile Banking, BNI Direct, dan BNI Open API. Ini membuat BNI sangat lengkap, karena digitalisasi yang kami lakukan bukan hanya menyasar segmen consumer dan UKM, melainkan juga untuk korporasi,” ungkapnya.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyatakan saat ini nasabah tak lagi mengandalkan ATM untuk melakukan transaksi. Pada kuartal pertama 2021, transaksi ATM sebesar Rp 200 triliun lebih kecil dari transaksi pada aplikasi sebesar Rp 341 triliun.
Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan salah satu tren yang dipercepat karena adanya pandemi dan masyarakat yang tetap di rumah memiliki pola yang berubah. Maka itu, Bank Mandiri tak hanya berinvestasi terhadap aplikasi.
“Tren menunjukkan behaviour tak lagi menggunakan ATM, nasabah nyaman menggunakan aplikasi online,” kata Panji.
Meski begitu, sebagai upaya terus meningkatkan kenyamanan nasabah, Bank Mandiri telah menarik sebanyak lima ribu ATM yang berusia tua, sehingga saat ini, ATM yang tersedia dan dimiliki oleh Bank Mandiri memiliki performa yang mumpuni karena usianya yang masih muda.
Menanggapi hal itu, Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira menilai transaksi layanan perbankan secara digital cukup signifikan pengaruh perubahan gaya transaksi nasabah bank selama pandemi. Tercatat rata-rata kenaikan internet banking mulai dari 120 persen sampai 600 persen karena kebutuhan akses layanan digital yang tinggi.
“Akibat cepatnya perubahan gaya transaksi ke digital membuat bank terpaksa menutup kantor cabangnya. Ada 1.000 kantor cabang bank yang tutup pada 2020 karena efek digitalisasi perbankan,” ucapnya.
Menurut Bhima faktor yang memengaruhi karena masyarakat selama masa pandemi lebih banyak di rumah, sehingga tingkat pemanfaatan internetnya naik.
“Belanja online naik signifikan, kemudian disusul oleh penggunaan jasa pesan antar makanan online,” ucapnya.
Dari data Digital Report 2021, Indonesia negara tertinggi yang menggunakan online food delivery /jasa pesan antar makanan di dunia tercatat sebanyak 74 persen penduduk dewasa menggunakan jasa food delivery satu bulan terakhir termasuk top up saldo e-wallet juga menggunakan aplikasi internet banking.
“Alasan utama masyarakat menggunakan fasilitas digitalisasi perbankan karena pertama trust atau kepercayaan yang makin tinggi bertransaksi secara online. Kedua mengurangi risiko tertular virus saat melakukan transaksi manual/ konvensional. Ketiga jaringan internet yang semakin luas. Keempat transaksi dapat real time selama 24 jam bahkan hari libur tanpa menunggu kantor cabang bank buka,” ungkapnya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah merilis peta jalan pengembangan perbankan nasional 2020-2025, yang mengatur soal digitalisasi perbankan.
Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I OJK Teguh Supangkat menjelaskan pandemi telah mendorong transaksi dan layanan keuangan secara digital dan virtual di Indonesia.
“Perkembangan tersebut mendorong otoritas pengawas keuangan untuk mempercepat transformasi digitalisasi perbankan Indonesia, menempatkannya sebagai prioritas terpenting kedua yang harus dijalankan dalam peta pengembangan industri,” ucapnya.
Menurutnya kondisi ini menuntut adanya transformasi struktural, antara lain melalui akselerasi layanan digital. Hal tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperkuat oleh bank, baik jangka pendek, melakukan konsolidasi atau jangka panjang transformasi struktural.
“Roadmap tersebut bisa menjadi pijakan pengembangan ekosistem perbankan, serta memberikan arah mengatasi tantangan perbankan ke depan, sehingga bisa berkontribusi optimal terhadap perekonomian nasional,” ucapnya.
Sumber Republika, edit koranbumn















