Corporate Secretary & Legal MUF, Elisabeth Lidya Sirait menyebut capaian tersebut membuat pembiayaan mobil baru berkontribusi sekitar 55% terhadap total portofolio MUF.
Sementara itu, lanjutnya, pembiayaan mobil bekas MUF tercatat sebesar Rp4 triliun dengan kontribusi sekitar 16,5% terhadap total portofolio perusahaan.
“Kedua segmen tersebut masih menjadi pilar utama portofolio MUF, dengan mobil baru sebagai kontributor terbesar dan mobil bekas sebagai segmen yang relatif lebih stabil di tengah dinamika pasar,” jelas Elisabeth kepada Bisnis, Selasa (20/1/2026).
Untuk diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per November 2025 pembiayaan mobil baru oleh multifinance terkontraksi 4,65% year-on-year (YoY), sedangkan pembiayaan mobil bekas tumbuh 0,42% YoY.
MUF, kata Elisabeth, menilai penurunan pembiayaan mobil baru dipengaruhi oleh penyesuaian daya beli masyarakat dan kecenderungan konsumen yang lebih selektif dalam mengambil pembiayaan kendaraan baru.
Di sisi lain, lanjutnya, mobil bekas menjadi alternatif yang lebih terjangkau. Dengan demikian, permintaannya menjadi relatif lebih terjaga.
“Ke depan, MUF memproyeksikan pembiayaan mobil bekas masih memiliki ruang pertumbuhan, sementara pembiayaan mobil baru tetap berpeluang tumbuh seiring membaiknya kondisi pasar dan dukungan program penjualan dari dealer dan prinsipal,” ujarnya.
Oleh karena itu, MUF melihat peluang yang cukup baik di segmen mobil bekas berkualitas atau certified used car. Elisabeth berujar, segmen ini menawarkan nilai kendaraan yang lebih terjaga serta risiko yang relatif lebih terukur.
Untuk memanfaatkan peluang tersebut, MUF fokus pada kerja sama dengan dealer mobil bekas terpercaya, penguatan proses penilaian kendaraan, serta penerapan skema pembiayaan yang sesuai dengan profil risiko nasabah.
Sementara itu, imbuh Elisabeth, untuk pembiayaan mobil baru MUF melakukan penyesuaian strategi secara selektif, baik dari sisi pricing, tenor, maupun uang muka, serta memperkuat kerja sama dengan dealer. Pasalnya, tantangan utama dalam penyaluran segmen itu kini adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas pembiayaan.
Lebih jauh, dia turut menyoroti bahwa MUF melihat ada kecenderungan pergeseran preferensi konsumen ke segmen kendaraan tertentu seperti mobil dengan fungsi keluarga dan efisiensi yang baik.
“Faktor kebutuhan, harga, dan efisiensi biaya kepemilikan menjadi pertimbangan utama konsumen, baik untuk mobil baru maupun mobil bekas. Selain itu, minat terhadap mobil listrik juga mulai tumbuh dan menjadi bagian dari upaya MUF dalam memperkuat portofolio pembiayaan mobil baru,” pungkasnya.
Sumber Bisnis, edit koranbumn
















