Direktur Utama ID Food Ghimoyo mengatakan kondisi geopolitik dan iklim global saat ini menjadi tantangan serius yang harus diantisipasi melalui penguatan sistem pangan nasional.
Menurut Ghimoyo, ID Food masih membutuhkan sejumlah dukungan agar perannya dalam menjaga ketahanan dan stabilitas pangan nasional dapat berjalan lebih optimal.
“Pertama, kami membutuhkan pinjaman dengan subsidi bunga. Hal ini penting agar ID Food dapat lebih leluasa dalam melakukan pengadaan komoditas pangan strategis, sekaligus mendorong investasi di sektor hilirisasi, termasuk penguatan rantai pasok dan cold chain yang terintegrasi,” kata Ghimoyo dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Selain itu, ID Food juga menyatakan kesiapan untuk menerima penugasan pemerintah dalam berbagai program pangan, termasuk bantuan pangan dan Gerakan Pangan Murah (GPM).
Ghimoyo turut menyinggung posisi penting dukungan pemerintah dalam subsidi distribusi pangan. Dia mengatakan tantangan terbesar tidak hanya terletak pada produksi, melainkan juga pada aspek distribusi, terutama untuk menjangkau wilayah Indonesia Timur dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Oleh karena itu, dukungan subsidi biaya angkutan logistik akan sangat membantu agar harga pangan di wilayah tersebut tetap terjangkau dan tidak terjadi disparitas yang tinggi,” ujarnya.
Dari sisi geopolitik, Ghimoyo menyampaikan bahwa potensi gangguan di Selat Hormuz mulai berdampak pada kenaikan indeks harga pangan global.
Selain faktor geopolitik, dia menuturkan bahwa ancaman juga datang dari sisi iklim melalui potensi super El Nino 2026 yang diperkirakan meningkatkan suhu global dan memengaruhi produksi, distribusi, hingga kualitas pangan.
“Bagi ID Food, situasi ini menjadi turning point, di mana peran kami harus bergeser. Tidak hanya sebagai buffer komersial, tetapi juga menjadi buffer ketahanan pangan negara,” imbuhnya.
Dia menjelaskan bahwa peran ID Food ke depan mencakup penjagaan ketersediaan stok, penguatan distribusi hingga wilayah rawan pangan, serta peningkatan efisiensi rantai pasok.
Dalam menjalankan fungsi tersebut, lanjut Ghimoyo, ID Food saat ini fokus pada penguatan sumber pasokan dan distribusi untuk enam komoditas strategis, yakni daging ruminansia, daging ayam, telur, gula, minyak goreng, dan ikan kembung.
ID Food juga menjalin kolaborasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk mendorong dukungan subsidi logistik. Di sisi lain, perusahaan juga memperkuat sinergi antar-BUMN bersama Perum Bulog, PTPN, dan Agrinas Pangan untuk memastikan penyerapan produk dalam negeri dan distribusi hingga pasar tradisional.
Hingga saat ini, ID Food telah memiliki jaringan distribusi yang luas, mencakup 94 titik cabang, lebih dari 1.400 titik pasar pantauan, serta lebih dari 27.000 mitra ritel di seluruh Indonesia.
Perusahaan juga menyuplai sekitar 420 titik dalam program gerakan pangan murah dari total 1.900 titik nasional pada 2026 sebagai bentuk intervensi harga langsung ke masyarakat.
Di sektor distribusi beras, ID Food juga menyatakan kesiapan bersinergi dengan Bulog dalam penyaluran beras SPHP secara nasional agar distribusi lebih cepat dan merata.
Sumber Bisnis, edit koranbumn













