Kinerja tersebut turut mendongkrak rasio imbal hasil ekuitas (return on equity/ROE) menjadi 5,5%, naik 120 basis poin (bps) secara tahunan.
Direktur Utama dan CEO IIF, Rizki Pribadi Hasan, mengatakan peningkatan laba ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) dan pengelolaan biaya yang lebih efisien di tengah tantangan pembiayaan infrastruktur.
“Biaya dana kami telah menurun serta rasio kecukupan modal [CAR] tetap kuat pada 43,7%. Kami terus memperkuat likuiditas dan diversifikasi pendanaan, dengan target hingga Rp3,0 triliun pada 2026,” ujar Rizki dalam keterangan resmi, Kamis (19/2/2026).
Sepanjang 2025, NII IIF tumbuh 44% secara tahunan menjadi Rp536,0 miliar. Kenaikan ini didorong oleh penurunan biaya dana sebesar 11% serta peningkatan pendapatan bunga sebesar 6,5% menjadi Rp1,3 triliun.
Pendapatan non-bunga (non-interest income/NOII) dari aktivitas tresuri melonjak hampir tiga kali lipat menjadi Rp42,3 miliar, sehingga mampu menutup penurunan pendapatan advisory.
Dari sisi efisiensi, rasio biaya operasional terhadap pendapatan membaik menjadi 54,6% atau turun 441 bps secara tahunan. Total aset perseroan tumbuh 5,0% menjadi Rp15,4 triliun, ditopang kenaikan aset produktif sebesar 2,0%.
Sementara itu, rasio pembiayaan bermasalah (non-performing finance/NPF) net tercatat 3,75% per 31 Desember 2025, sedikit meningkat dari 3,41% pada tahun sebelumnya, namun masih berada di bawah ambang batas regulasi sebesar 5%.
Rizki menambahkan, IIF melihat perlunya percepatan pembangunan infrastruktur di tengah dinamika ekonomi global.
“Kami siap mendukung pertumbuhan tersebut melalui berbagai produk pembiayaan dan struktur permodalan yang kuat,” katanya.
Sebagai bagian dari penguatan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan, IIF baru saja menjalin kerja sama dengan FinDev Canada untuk mendukung pembiayaan proyek infrastruktur rendah karbon di Indonesia.
Sumber Bisnis, edit koranbumn
















