Sekretaris Perusahaan Jasindo Brellian Gema Widayana mengemukakan bahwa pendapatan premi lini usaha tersebut mencapai Rp71 miliar.
“Meski menunjukkan kinerja positif, kontribusi lini usaha ini terhadap total portofolio premi perusahaan masih relatif kecil, yakni sekitar 2,1%,” ungkapnya kepada Bisnis, Rabu (7/1/2026).
Adapun, hingga September 2025 Jasindo melihat permintaan perlindungan marine cargo masih didominasi oleh sektor pertambangan, yang memiliki nilai ekspor tinggi serta risiko pengangkutan yang signifikan.
Untuk diketahui, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor Indonesia pada Oktober dan November 2025 mengalami pelemahan yang cukup tajam. Kontraksi yang terjadi di November 2025 semakin dalam yakni menjadi 6,6% YoY, dibandingkan pada Oktober 2025 lalu yakni 2,31% YoY.
Menanggapi hal tersebut, Brellian berujar Jasindo mencermati fenomena itu. Namun, dia menegaskan pertumbuhan premi marine cargo hingga November 2025, menunjukkan permintaan perlindungan asuransi pengangkutan tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh fluktuasi jangka pendek ekspor.
“Ke depan, Asuransi Jasindo melihat lini usaha marine cargo tetap memiliki peluang pertumbuhan yang positif pada 2026, seiring dengan kebutuhan pelaku usaha terhadap mitigasi risiko rantai pasok,” tuturnya.
Oleh karena itu, lanjutnya, perusahaan akan mendorong pertumbuhan secara selektif dan berkelanjutan. Caranya adalah fokus pada kualitas portofolio, penguatan layanan, dan pendekatan solusi yang sesuai dengan kebutuhan nasabah.
Sementara itu, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengimbau para perusahaan asuransi untuk memperluas kerja sama dengan eksportir, importir, freight forwarder, dan perbankan, mengembangkan produk yang lebih fleksibel sesuai profil risiko logistik.
“Serta memanfaatkan digitalisasi dalam proses underwriting dan penerbitan polis. Peningkatan layanan manajemen risiko dan klaim juga menjadi nilai tambah penting bagi pelaku usaha perdagangan,” kata Ketua Umum AAUI Budi Herawan.
AAUI memandang lini usaha marine cargo pada 2026 memiliki prospek yang tetap moderat dan positif secara selektif. Dengan asumsi stabilisasi perdagangan global dan penguatan aktivitas logistik nasional, lini ini dianggap masih memiliki ruang tumbuh, meskipun tidak agresif.
“Fokus ke depan akan lebih mengarah pada kualitas pertumbuhan, pengelolaan risiko yang lebih prudent, serta penyesuaian produk dengan kebutuhan perdagangan dan logistik yang semakin kompleks,” pungkas Budi.
Sumber Bisnis, edit koranbumn














