PT Kimia Farma Tbk bersama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam acara Pekan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Kedokteran Nuklir dan Teranostik Molekuler Indonesia, secara resmi meluncurkan obat untuk mendeteksi penyakitTuberculosis (TB) pertama di Indonesia.
Obat ini merupakan inovasi anak bangsa sekaligus persembahan bagi sejawat dokter dan tenaga kesehatan yang berguna untuk membantu dalam mendeteksi penyakit Tuberculosis paru-paru, maupun Ekstraparu.
Saat ini pasokan radiofarmaka di Indonesia masih didominasi 80% oleh produk impor, sedangkan pasar dalam negeri masih cukup besar.
“Kapasitas industri farmasi nasional berbasis radiofarmaka harus diperkuat dan diperbesar, serta didukung oleh semua stakeholder baik dari regulasi, riset yang up to date, dan insentif dari pemerintah sebagai driven kemandirian industri radiofarmaka,” kata Dr. Tita Puspitasari M.Si, Kepala Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri (PRTRRB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Dr. Jasmine Karsono mengatakan, Kimia Farma telah menghilirisasi kit radiofarmaka lain yang diteliti oleh Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri (PRTRRB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), seperti Kit MDP untuk deteksi pencitraan tulang, Kit DTPA untuk deteksi perfusi ginjal dan Kit MIBI untuk deteksi perfusi jantung.
















