Produksi tandan buah segar (TBS) inti regional ini tercatat mencapai 1,6 juta ton atau tumbuh 5,4% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan produktivitas kebun mencapai 24,07 ton TBS per hektare per tahun.
Capaian tersebut menjadi perhatian Danantara Asset Management (DAM) saat melakukan kunjungan kerja ke Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Pagar.
Managing Director Business 2 Danantara Setyanto Hantoro menilai peningkatan produksi ini tidak terlepas dari konsistensi PalmCo dalam mengeksekusi transformasi bisnis perkebunan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Selain peningkatan produksi TBS, kinerja pengolahan di PTPN IV Regional III juga mencatat hasil positif. Sepanjang 2025, pabrik kelapa sawit di wilayah ini menghasilkan crude palm oil (CPO) sebesar 575.000 ton dengan produktivitas 5,68 ton per hektare per tahun.
Produksi minyak inti sawit (PKO) tercatat mencapai 115.000 ton, dengan rendemen CPO sebesar 23,59%, melampaui target perusahaan.
“Capaian produksi tersebut mencerminkan keberhasilan integrasi digitalisasi, mekanisasi, dan pengelolaan sumber daya manusia yang dijalankan PalmCo. Transformasi yang dijalankan tidak berhenti pada perencanaan, tetapi telah berdampak langsung pada peningkatan output dan efisiensi operasional kebun sawit,” ungkapnya Rabu (21/1/2026).
Managing Director Risk Management Danantara Riko Banardi juga mengapresiasi kejelasan arah bisnis PalmCo, khususnya dalam menjaga keseimbangan antara modernisasi teknologi dan penguatan peran tenaga kerja.
Dia menilai capaian produksi Regional III Riau menjadi bukti bahwa transformasi yang dilakukan memiliki target dan hasil yang terukur.
Peningkatan kinerja Regional III Riau turut menopang kinerja konsolidasi PalmCo secara nasional.
Sepanjang 2025, PalmCo mencatatkan produktivitas CPO sebesar 4,70 ton per hektare per tahun atau tumbuh 9% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan laba bersih perusahaan mencapai Rp6,19 triliun atau sekitar 170% dari target RKAP.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa menegaskan bahwa peningkatan produksi kebun menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.
“Fokus utama diarahkan pada peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, dan keberlanjutan, yang dijalankan secara simultan untuk memperkuat daya saing industri sawit nasional serta mendukung ketahanan pangan dan energi,” pungkasnya.
Sumber Bisnis, edit koranbumn














